Laporan Kegiatan
Pendidikan Pemilih (Voter Education)
Di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Anjungan
Oleh:
Pebruantoni
Dedy Armayadi
M. Isnaini
Koalisi Masyarakat Pemilu Untuk Demokratis
(KMPD)
2009
I. INFORMASI UMUM
1.1 Pelaksana
Pelaksana Kegiatan Pendidikan Pemilih (Voter Education) di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Anjungan, Kabupaten Pontianak adalah Tim Trainer dari LPS AIR yang tergabung ke dalam Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Demokratis (KMPD). Tim ini terdiri dari tiga orang yakni:
a. Pebruantoni (Koordinator Tim Trainer).
b. Dedy Armayadi (Ass. Tim Trainer)
c. M. Isnaini (Ass. Tim Trainer)
1.2 Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan atau pendidikan bagi pemilih.
1.3 Waktu dan tempat
Kegiatan pendidikan pemilih ini dilaksanakan pada
Hari/ Tanggal : Selasa, 17 Maret 2009
Pukul : 08.00-12.00 WIB
Tempat : Ruang Kelas SMA Negeri 1 Anjungan
1.4 Rencana dan pelaksanaan kegiatan
Rencana kegiatan pendidikan pemilih di SMA Negeri 1 Anjungan direncanakan pada hari Selasa, 17 Maret 2009, dan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan.
1.5 Penundaan
Tidak ada penundaan dalam kegiatan ini.
1.6 Nara sumber
Narasumber kegiatan pendidikan pemilih ini berasal dari Tim Trainer KMPD;
a. Dedy Armayadi untuk Materi “Demokrasi & Pemilu”, dan “Menjadi Pemilih Cerdas”.
b. Pebruantoni untuk Materi “Hari Pemilu”
1.7 Peserta :
Peserta pendidikan pemilih ini berjumlah 62 orang, yang terdiri dari 26 orang laki-laki dan 36 orang perempuan. Seluruh peserta merupakan pemilih pemula (Nama peserta terlampir).
II. PELAKSANAAN
2.1 Latar belakang kegiatan
Pesta Demokrasi bagi rakyat Indonesia melalui penyelenggaraan PEMILU 2009 tinggal menghitung hari. Suasana Pesta Demokrasi sudah terasa dimana-mana, setiap sudut desa dan kota terpampang Baliho, Spanduk, Poster, Stiker, dan alat peraga lainnya dari para calon Wakil Rakyat periode 2009-2014.
Namun demikian, ada sisi yang kurang diperhatikan oleh para kontestan PEMILU 2009, yakni terkait dengan Pertisipasi Rakyat yang lebih cerdas untuk terlibat secara aktif dalam setiap tahapan PEMILU 2009, sehingga hasil dari PEMILU 2009 akan semakin berkualitas. Hal ini digambarkan dengan terpilihnya Wakil Rakyat, baik mereka yang akan duduk di lembaga legislatif (DPR, DPRD, DPD) maupun Presiden dan Wakil Presiden yang dapat menjawab harapan rakyat berupa kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Dari pengalaman PEMILU sebelumnya, rendahnya partisipasi rakyat Kalimantan Barat dalam PEMILU disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Informasi PEMILU yang tidak dapat menjangkau secara luas ke seluruh lapisan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis Kalimantan Barat yang luas namun memiliki keterbatasan infrastruktur, serta penyebaran penduduk yang terpencar sampai di wilayah pesisir pedalaman; (2) Rendahnya pemahaman tentang arti pentingnya PEMILU. Hal ini disebabkan oleh belum dipahaminya pemilu sebagai sarana demokrasi yang ampuh untuk menentukan pemimpin yang sesuai dengan kepentingannya; dan (3) Rendahnya kemampuan dalam memahami proses PEMILU. Ketiga faktor tersebut disebabkan oleh suatu kenyataan masih rendahnya tingkat pendidikan rakyat serta sosialisasi penyelenggaraan PEMILU yang masih belum dilakukan secara maksimal.
Berdasarkan hal tersebut, Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Demokratis (KMPD) Kalimantan Barat mencoba mengambil sisi yang masih kurang diperhatikan, dengan salah satu kegiatannya melakukan Pendidikan Pemilih pada PEMILU 2009. Pendidikan Pemilih ini diberikan kepada tiga sasaran yaitu (1) Pemilih Pemula, (2) Kaum Perempuan, dan (3) Kaum Marginal. Adapun salah satu penyelenggaraan pendidikan pemilih dengan target pemilih pemula dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Anjungan, Kabupaten Pontianak.
2.2 Tujuan kegiatan
a. Menambah wawasan peserta tentang Demokrasi dan PEMILU 2009, sehingga aktif mengikuti setiap tahapan PEMILU 2009.
b. Meningkatkan pemahaman peserta untuk menjadi pemilih yang cerdas.
c. Menambah pengetahuan peserta tentang surat suara sah dan tidak sah, sehingga paham dalam mencontreng surat suara yang benar saat PEMILU 2009.
2.3 Hasil yang Diharapkan
a. Peserta dapat memahami Demokrasi dan PEMILU 2009, sehingga aktif mengikuti setiap tahapan PEMILU 2009.
b. Peserta menjadi pemilih yang cerdas.
c. Peserta paham cara mencontreng surat suara yang benar saat PEMILU 2009.
2.4 Metode
Pendidikan pemilih ini menggunakan beberapa metode;
a. Ceramah dan tanya jawab
b. Diskusi Kelompok
c. Simulasi
d. Permainan
2.5 Pencapaian hasil
a. Peserta memahami kekuatan yang mereka miliki.
Saat perkenalan fasilitator mengarahkan peserta berdiskusi tentang kekuataan yang mereka miliki. Sebelumnya peserta dibagi ke dalam 3 kelompok. Setiap orang di dalam kelompok menuliskan satu kata yang menjadi “kekuataan atau kelebihannya” di metaplan. Selanjutnya kata-kata di metaplan disusun, sehingga menjadi sebuah kalimat. Pada sessi ini peserta juga diminta untuk membuat yel-yel kelompok. Suasana sessi ini terasa meriah. Saat presentasi, disamping menjelaskan hasil diskusi kelompok, setiap kelompok juga menampilkan yel-yelnya. Berikut ini adalah kalimat-kalimat yang disusun oleh ketiga kelompok peserta:
Kelompok I:
“ Sebagai manusia yang baik kita harus adil, baik hati, dan harus bertanggung jawab. Kita tidak boleh cuek, harus jujur, sehingga menjadi orang yang ramah dan suka menolong.”
Presentasi Diskusi tentang Kekuatan Kelompok 1
Kelompok II:
“ Kami anak SMA Negeri 1 Anjungan akan memilih calon yang pemaaf, jujur, adil, anti korupsi, setia, tidak pelit pada masyarakat dan tegas, sehati, baik, bijaksana dan menjalankan kewajibannya dengan penuh rasa tanggung jawab pada janji-janjinya.”
Diskusi Kelompok 2 tentang Kekuatan Diri
Kelompok III:
Diskusi Kelompok 3 tentang Kekuatan Diri & Presentasi Hasil Diskusi Kelompok
“ Kami akan memilih pemimpin yang jujur dan tidak pernah omong kosong, bertanggung jawab, tegas, visioner, dapat menciptakan sesuatu yang baru di masa depan, bijaksana dalam mengambil suatu keputusan, disiplin, adil, dan peduli terhadap sesama.”
Berikut kesepakatan peserta pelatihan:
1. Tidak boleh ribut
2. Tidak boleh makan
3. Jika peserta ingin keluar, harus meminta ijin terlebih dahulu.
4. Pelatihan dilaksanakan hingga pukul 12.00 WIB
5. Harus sungguh-sungguh
b. Penyampaian materi ”Demokrasi dan Pemilu”
Materi demokrasi dan pemilu ini disampaikan oleh Dedy Armayadi. Metode yang digunakan dalam penyampaian materi ini adalah dialog dan tanya jawab, serta diskusi, yang kemudian dilanjutkan dengan presentasi masing-masing kelompok. Kelompok yang digunakan seperti kelompok saat sessi perkenalan dan kesepakatan.
Pada bagian pertama sessi ini, fasilitator terlebih dahulu bertanya kepada masing-masing kelompok tentang arti demokrasi. Jawaban kelompok 1 dan kelompok 3 tidak jauh berbeda. Menurut kedua kelompok ini demokrasi adalah kebebasan menyampaikan pendapat. Jawaban berbeda diberikan kelompok 2. Menurut kelompok 2, demokrasi adalah pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat.
Untuk memperjelas bahasan, fasilitator menyampaikan arti kata demokrasi yang berasal dari bahasa Yunani. Menurut pemateri, demokrasi terdiri dari 2 kata yakni demos dan kratos. Demos berarti rakyat, sedangkan kratos artinya kekuasaan. Jadi, demokrasi dapat diartikan sebagai kekuasaan dari, oleh, dan untuk rakyat.
Demokrasi sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Ia berkaitan dengan pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil dengan musyawarah dan melibatkan banyak pihak dapat dikatakan sebagai keputusan yang demokratis. Contoh berdemokrasi di sekolah antara lain adalah pemilihan ketua kelas atau pemilihan ketua OSIS secara langsung.
Selepas menjelaskan arti kata demokrasi dan contoh praktek berdemokrasi di sekolah, fasilitator kemudian meminta kepada peserta untuk bercerita tentang pengalaman mereka berdemokrasi.
Tidak lama kemudian, salah satu peserta bercerita tentang pengalamannya ikut dalam pemilihan Ketua OSIS. Ia bercerita tentang proses pemilihan Ketua OSIS yang dipilih secara langsung oleh seluruh siswa di SMA Negeri 1 Anjungan. Menurutnya, pemilihan Ketua OSIS boleh dikatakan sebagai proses yang demokratis, karena memberikan kesempatan kepada siswa, anggota OSIS untuk menentukan siapa pemimpinnya.
Seorang Siswa menceritakan Pengalamannya Berdemokrasi
Untuk menambah wawasan peserta, fasilitator juga menjelaskan tentang demokrasi yang pernah dilaksanakan di Indonesia. Menurut fasilitator, sedikitnya Indonesia telah melaksanakan 4 fase demokrasi, yakni demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila, dan demokrasi di era reformasi. Demokrasi di era reformasi telah banyak mengalami perubahan. Kini pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung. Namun demikian, demokrasi yang kini berlangsung di Indonesia masih sebatas demokrasi prosudural, belum subtantif. Proses berdemokrasi di Indonesia baru menjalankan prosedur dari tahapan-tahapan demokrasi, namun belum menyentuh pada hakikat demokrasi.
Demokrasi dan Pemilu adalah alat agar suara/harapan rakyat dapat diwujudkan oleh pemerintahan terpilih. Pemerintahan terpilih yang dimaksud adalah pemimpin negara dan daerah, serta wakil rakyat baik yang duduk di DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD. Sebelum memilih hendaknya kita mengungkapkan harapan dan impian kita kepada calon wakil rakyat atau pemerintahan terpilih, sehingga mereka tahu dan dapat mewujudkannya
c. Poster tentang harapan kepada pemerintahan terpilih 2009-2014.
Selepas memberikan pengantar mengenai demokrasi dan pemilu, fasilitator mengarahkan peserta untuk mendiskusikan tentang harapan mereka. Pertanyaan yang hendak dijawab yakni, apa harapan adik-adik kepada pemerintahan terpilih 2009-2014 kelak? Diskusi untuk membahas pertanyaan ini dilakukan di dalam kelompok yang sama seperti sessi sebelumnya. Pemateru menginstruksikan jawaban peserta ditampilkan dalam bentuk gambar atau poster. Berikut poster dan harapan ketiga kelompok peserta:
Kelompok 1
Poster “Anti Korupsi” dan Harapan Kelompok 1
Kelompok 2
Poster “Tidak Butuh Pemimpin Korup” dan Harapan Kelompok 2
Kelompok 3
Poster “Prestasi Yes, Korupsi No” dan Harapan Kelompok 3
Poster yang dibuat Kelompok 3 ini cukup menarik. Temanya “Prestasi Yes, Korupsi No”. Di dalam poster itu ada gambar tangan sebagai simbol “anti”, sedangkan pada lembar berikutnya terdapat gambar tikus yang di otaknya hanya dipenuhi lembaran-lembaran uang. Dari poster ini, kelompok 3 berharap permerintahan terpilih nantinya tanggap terhadap korupsi. Dalam poster tertulis ungkapan-ungkapan seperti; “tanggap korupsi, kami tidak ingin negara kami penuh dengan koruptor”; “Hindari korupsi men!”; “Prestasi, Yes, Korupsi, No”; “Ciptakan negara maju tanpa korupsi. Hidup Aman dan Tentram”
d. Penyampaian materi; “Menjadi Pemilih Cerdas”.
Materi ini disampaikan oleh Dedy Armayadi. Metode yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab. Metode ini digunakan karena dari hasil diskusi kelompok sebelumnya peserta telah mengungkapkan kriteria pemimpin atau calon seperti apa yang layak pilih. Pemateri hanya mempertegas tentang bagaimana menjadi pemilih cerdas, bagaimana menilai calon dan partai, dan mengapa kita harus ikut berpartisipasi dalam Pemilu 2009.
Pemateri Menjelaskan Materi; “Menjadi Pemilih Cerdas”
Saat menyampaikan materi, fasilitator menjelaskan tentang kriteria pemilih cerdas yang antara lain yaitu:
Pemilih yang bisa membedakan informasi yang jujur dan manipulatif
Pemilih yang sadar menyikapi keriuhan pesta demokrasi
Memastikan agar suara kita atau pilihan kita kepada orang yang bisa membawa aspirasi kita.
Selain itu, fasilitator juga menyampaikan bagaimana cara menilai calon. Berikut beberapa kriteria yang disampaikan:
Prestasi Calon – bermanfaat kepada orang banyak, dicapai secara jujur
Janji saat kampanye – masuk akal atau sekedar pemanis saja
Indikasi korupsi – lihat gaya hidupnya, apakah sesuai dengan pekerjaannya.
Perilaku keseharian
Sedangkan untuk menilai partai peserta diajak untuk melihat dari aspek-aspek sebagai berikut:
Apakah anggota partai banyak yang terlibat korupsi?
Sering kisruh misalnya memperebutkan posisi atau anggotanya pecah
Tidak punya program yang berkesinambungan
Tidak mempunyai sikap jelas atas pelanggaran yang dilakukan anggotanya
Selanjutnya fasilitator bertanya kepada peserta tentang mengapa kita harus ikut berpartisipasi dalam pemilu 2009? Beberapa jawaban peserta adalah:
Karena biaya pemilu besar. Uang untuk membiayai pemilu diambil dari rakyat. Makanya sayang kalau kita tidak ikut pemilu.
Karena kita punya hak pilih. Saat pemilu kita tidak boleh menyia-nyiakan hak pilih kita.
Karena kita warga negara Indonesia, yang harus ikut juga menentukan perubahan di Indonesia.
Untuk meredakan ketegangan setelah serius berdiskusi, fasilitator memberikan game /permainan “Membuat Menara Kertas” kepada peserta. Peserta yang telah bergabung ke dalam kelompok diminta untuk membuat menara hanya dari kertas tanpa menggunakan bahan lainnya. Menara yang dibuat akan dinilai dengan 3 indikator yaitu; Keaslian Ide, Ketinggian, dan Kekokohan. Sessi ini terasa ramai dan meriah. Peserta berlomba-lomba membuat menara yang paling inovatif, tinggi dan kokoh.
Diskusi, Hasil, dan Pengujian dalam Permainan “Membuat Menara Kertas”
Pada akhir permainanan fasilitator bertanya tentang makna atau pelajaran yang dapat dipetik dari game “Membuat Menara Kertas”. Beberapa jawaban peserta antara lain yaitu:
Kita perlu menjaga kekompakkan
Kita harus saling bekerja sama dalam mengerjakan sesuatu.
Berdiskusi/bermusyawarah terlebih dahulu sebelum bekerja.
Kita harus kreatif dan inovatif
e. Penyampaian materi; “Hari Pemilu”
Materi Hari Pemilu disampaikan oleh Pebruantoni. Metode yang digunakan dalam materi ini adalah ceramah dan tanya jawab. Dalam materi ini fasilitator menyampaikan tentang tahapan pelaksanaan pemilu dan bagaimana mencentang yang benar agar surat suara dinyatakan sah. Fasilitator juga menyampaikan tentang surat suara yang tidak sah. Dasar pemateri memberikan materi ini yaitu PERPPU No. 1 Tahun 2009, PER_KPU No.03 Tahun 2009, dan PER_KPU No. 13 Tahun 2009.
Pertama-tama, fasilitator menjelaskan tentang tahapan pelaksanaan pemilu yakni:
1. Pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih.
2. Pendaftaran peserta pemilu.
3. Penetapan peserta pemilu.
4. Penetapan jumlah kursi dan daerah pemilihan.
5. Pencalonan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD Kab/Kota.
6. Masa Kampanye
7. Masa Tenang
8. Pemungutan dan perhitungan suara.
9. Penetapan hasil pemilu.
10. Pengucapan sumpah/janji anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD Kab/Kota.
Selanjutnya fasilitator menjelaskan tentang contoh surat suara. Ada empat surat suara pada waktu pemilu yang akan dicentang, yakni surat suara DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD.
Fasilitator menjelaskan tentang contoh surat suara
Setelah itu fasilitator menjelaskan tentang bagaimana cara mencentang, surat suara sah, surat suara yang dianggap sah, dan surat suara ridak sah. Sebelumnya fasilitator telah menyediakan contoh surat suara pada selembar kertas. Kertas tersebut menjadi media simulasi cara mencentang. Menurut pemateri ada beberapa bentuk pencentangan/pencontrengan, yaitu; (√), (x), dan (-). Pencentangan dinyatakan sah jika dilakukan dalam kolom partai dan atau kolom nama partai politik. Surat suara dinyatakan sah jika surat hanya mencoret nama calon, dengan catatan tidak boleh melewati garis kolom. Pencentangan tidak diperbolehkan di luar kolom tersebut, dan tidak boleh mencentang lebih dari 1 calon legislatif.
Penjelasan tentang cara mencentang surat suara
Pada sessi ini peserta banyak bertanya. Beberapa pertanyaan peserta diantaranya yaitu;
Soal pencentangan tidak sempurna, siapa yang berhak mendapatkan suara?
Kalau kita mencoblos surat suara apakah dianggap sah?
Kalau ada orang buta, siapa yang membantu?
Boleh tidak membawa kartu calon ke dalam bilik suara?
Fasilitator menjawab satu per satu pertanyaan dari peserta. Soal pencentangan yang tidak sempurna, fasilitator menjelaskan bentuknya seperti (\) dan (/). Menurut fasilitator, untuk centang tidak sempurna ini calon yang diakui berada tepat pada sudut bawah pencentangan.
Berkaitan dengan jika surat suara tercoblos, fasilitator menjelaskan surat suara tersebut tetap dianggap sah jika masih berada di dalam kolom. Kalau ada orang buta atau cacat, lansia, pemilih akan dibantu petugas KPPS. Petugas KPPS tidak boleh curang, dan harus bertanggung jawab dengan tugasnya.
Warga yang ingin mencentang tidak diperbolehkan membawa kartu calon. Pada hari pemilu di sekitar TPS harus bersih dari atribut kampanye. Terkecuali atribut TPS seperti surat suara, denah TPS, poster cara mencentang, dan sebagainya.
Sessi materi “Hari Pemilu” ditutup dengan menyanyikan lagu “Tanah Airku” bersama-sama.
Peserta antusias menyanyikan lagu “Tanah Airku”
f. Hasil Evaluasi dan Penutupan
Sebagai bahan pembelajaran dan untuk mengetahui penilaian peserta terhadap penyelenggaraan pelatihan, tim trainer meminta kepada 10 peserta mengisi lembar evaluasi kegiatan. Pengisian lembar evaluasi ini dilakukan secara mandiri oleh peserta pelatihan.
Peserta mengisi lembar evaluasi pelatihan
Berikut hasil evaluasi kegiatan dari peserta:
No Description Score
Jelek
(Orang) Tidak Bagus
(Orang) Biasa
(Orang) Bagus
(Orang) Sangat Bagus
(Orang)
1 Kemampuan fasilitator dalam menjelaskan materi training 2 7 1
2 Kemampuan fasilitator dalam menumbuhkan partisipasi dan semangat peserta 1 5 4
3 Kemampuan dalam menjawab berbagai pertanyaan dari peserta 4 5 1
4 Ketepatan methodologi pelatihan 4 4 2
5 Dukungan alat-alat (Handout, LCD, perlengkapan, dsb) 1 1 4 4
6 Fasilitas akomodasi 3 7
7 Kualitas penyelenggaraan training secara keseluruhan 1 4 5
Pertanyaan mengenai “pengetahuan” secara umum dapat dijawab oleh peserta. Namun ada dua jawaban yang perlu diperhatikan, yakni tentang sessi yang disukai peserta dan saran perbaikan dari peserta.
Berikut jawaban tentang sessi yang dianggap peserta paling menarik:
Sessi membuat poster “harapan/impian kepada pemerintahan terpilih”
Sessi permainan “Membuat Menara dari Kertas”
Sessi materi “cara mencontreng/mencentang yang benar”
Sessi diskusi kelompok
Saat presentasi hasil diskusi kelompok
Adapun saran dari peserta guna perbaikan pelatihan yaitu;
Harus tegas dengan siswa, agar tidak ribut.
Menambah alat elektronik (mungkin maksudnya LCD) supaya pengetahuan siswa lebih memadai.
Penjelasan materinya dibuat lebih detail dan dimantapkan.
Selepas mengisi lembar evaluasi, kegiatan dilanjutkan dengan PENUTUPAN. Bapak Sukirno, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Anjungan memberikan sambutannya, sekaligus menutup acara Pendidikan Pemilih (Votter Education). Kepala Sekolah mengucapkan terima kasih kepada Tim Trainer dari KMPD yang telah memberikan pengetahuan dan wawasan tentang demokrasi, pemilu, dan bagaimana mencentang yang benar kepada siswa-siswinya. Kepala Sekolah berharap kepada siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ini juga dapat berbagi kepada teman-teman lain, orang tua, dan pihak-pihak lain yang belum mendapatkan sosialisasi Pemilu 2009. Terakhir, kepala sekolah memohon maaf jika terdapat tindakan siswanya yang kurang berkenan kepada tim trainer.
Kepala Sekolah memberikan sambutan sekaligus menutup
Kegiatan Pendidikan Pemilih di SMA N 1 Anjungan.
Setelah penutupan, Tim Trainer bersama peserta foto bersama. Karena jumlah pesertanya cukup banyak, disepakati pemotretan dilakukan tiga sessi.
Foto bersama; peserta, tim trainer dan kepala sekolah.
2.6 Tantangan
Tantangan utama dalam pelatihan ini datang dari peserta. Saat fasilitator memberikan penjelasan, terkadang peserta ribut, dan lempar-lemparan kertas. Agar suasana kembali tenang, fasilitator harus berulang kali mengingatkan.
Di dalam ruang kelas tidak tersedia mikrofon atau pengeras suara. Dengan jumlah peserta yang mencapai 62 orang, sementara ruang pertemuan tidak terlalu luas, mengajak peserta untuk tenang cukup kerepotan juga. Untungnya salah satu fasilitator, saat pembukaan telah memberikan kata sandi kepada peserta. Kata sandinya berupa ungkapan “hello” yang dijawab “hay”. Begitu pula sebaliknya, ungkapan “hay” dijawab “hello”. Jadi, jika peserta ribut, fasilitator tinggal mengucapkan kata sandi. Setelah suasana kembali tenang, baru fasilitator kembali melanjutkan materi.
2.7 Pelajaran yang diambil/rekomendasi
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari pelatihan ini yaitu:
1. Pendekatan kepada pihak sekolah tidak menemukan kendala berarti. Kebetulan salah satu fasilitator kenal dengan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Anjungan, sehingga untuk konfirmasi kegiatan jadi lebih mudah. Namun demikian, prosedur pelaksanaan kegiatan di SMA ini tetap dipenuhi.
2. Siswa-siswi SMA sudah terbiasa mendengarkan materi dari gurunya dengan metode ceramah. Pada pertemuan ini tim trainer menggunakan metode diskusi kelompok, permainan, dan simulasi. Ceramah dan tanya jawab hanya khusus pada materi tertentu. Variasi metode ini digunakan untuk mengurangi kejenuhan dan meningkatkan partisipasi peserta. Terbukti dari hasil evaluasi kegiatan, sessi-sessi diskusi kelompok, membuat poster, dan permainan “membuat menara dari kertas” disukai dan diikuti peserta dengan antusias.
3. Berdasarkan hasil diskusi kelompok berupa “poster harapan dan impian” dan menyusun kalimat dari kekuatan yang dimiliki peserta, dapat disimpulkan bahwa peserta memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup baik tentang siapa yang kelak mereka pilih. Meskipun belum pernah mengikuti pemilu, peserta yang umumnya pemilih pemula ini ternyata telah “menjadi pemilih cerdas”. Diskusi kelompok dan membuat poster merupakan sessi yang menuntut kreatifitas peserta, namun dapat menggambarkan sejauh mana kapasitas peserta dalam berkreatifitas. Untuk itu, ke depan, sessi yang memberikan kesempatan peserta untuk berkreatifitas dan menumpahkan ekspresinya ini perlu didorong dan diprioritaskan.
4. Untuk mengatasi keributan peserta, fasilitator tidak harus marah-marah. Saat peserta ribut, fasilitator lebih baik melakukan pendekatan dengan empati. Mencoba memahami kondisi peserta terlebih dahulu, selanjutnya fasilitator memberi ketegasan berdasarkan kesepakatan bersama. Misalnya, kalau ketahuan ribut atau lempar-lemparan kertas akan diberikan sanksi berupa push up di depan kelas. Pendekatan ini ternyata efektif diterapkan kepada peserta.
5. Kekompakkan tim trainer merupakan salah satu aspek kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan. Pelaksanaan pendidikan pemilih di SMA Negeri 1 Anjungan ini adalah kegiatan yang ke-6, sehingga fasilitator telah menguasai alur kegiatan dan paham dengan peran masing-masing.
Senin, 05 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar