Laporan Kegiatan
Pendidikan Pemilih (Voter Education)
Di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Anjungan
Oleh:
Pebruantoni
Dedy Armayadi
M. Isnaini
Koalisi Masyarakat Pemilu Untuk Demokratis
(KMPD)
2009
I. INFORMASI UMUM
1.1 Pelaksana
Pelaksana Kegiatan Pendidikan Pemilih (Voter Education) di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Anjungan, Kabupaten Pontianak adalah Tim Trainer dari LPS AIR yang tergabung ke dalam Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Demokratis (KMPD). Tim ini terdiri dari tiga orang yakni:
a. Pebruantoni (Koordinator Tim Trainer).
b. Dedy Armayadi (Ass. Tim Trainer)
c. M. Isnaini (Ass. Tim Trainer)
1.2 Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan atau pendidikan bagi pemilih.
1.3 Waktu dan tempat
Kegiatan pendidikan pemilih ini dilaksanakan pada
Hari/ Tanggal : Selasa, 17 Maret 2009
Pukul : 08.00-12.00 WIB
Tempat : Ruang Kelas SMA Negeri 1 Anjungan
1.4 Rencana dan pelaksanaan kegiatan
Rencana kegiatan pendidikan pemilih di SMA Negeri 1 Anjungan direncanakan pada hari Selasa, 17 Maret 2009, dan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan.
1.5 Penundaan
Tidak ada penundaan dalam kegiatan ini.
1.6 Nara sumber
Narasumber kegiatan pendidikan pemilih ini berasal dari Tim Trainer KMPD;
a. Dedy Armayadi untuk Materi “Demokrasi & Pemilu”, dan “Menjadi Pemilih Cerdas”.
b. Pebruantoni untuk Materi “Hari Pemilu”
1.7 Peserta :
Peserta pendidikan pemilih ini berjumlah 62 orang, yang terdiri dari 26 orang laki-laki dan 36 orang perempuan. Seluruh peserta merupakan pemilih pemula (Nama peserta terlampir).
II. PELAKSANAAN
2.1 Latar belakang kegiatan
Pesta Demokrasi bagi rakyat Indonesia melalui penyelenggaraan PEMILU 2009 tinggal menghitung hari. Suasana Pesta Demokrasi sudah terasa dimana-mana, setiap sudut desa dan kota terpampang Baliho, Spanduk, Poster, Stiker, dan alat peraga lainnya dari para calon Wakil Rakyat periode 2009-2014.
Namun demikian, ada sisi yang kurang diperhatikan oleh para kontestan PEMILU 2009, yakni terkait dengan Pertisipasi Rakyat yang lebih cerdas untuk terlibat secara aktif dalam setiap tahapan PEMILU 2009, sehingga hasil dari PEMILU 2009 akan semakin berkualitas. Hal ini digambarkan dengan terpilihnya Wakil Rakyat, baik mereka yang akan duduk di lembaga legislatif (DPR, DPRD, DPD) maupun Presiden dan Wakil Presiden yang dapat menjawab harapan rakyat berupa kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Dari pengalaman PEMILU sebelumnya, rendahnya partisipasi rakyat Kalimantan Barat dalam PEMILU disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Informasi PEMILU yang tidak dapat menjangkau secara luas ke seluruh lapisan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis Kalimantan Barat yang luas namun memiliki keterbatasan infrastruktur, serta penyebaran penduduk yang terpencar sampai di wilayah pesisir pedalaman; (2) Rendahnya pemahaman tentang arti pentingnya PEMILU. Hal ini disebabkan oleh belum dipahaminya pemilu sebagai sarana demokrasi yang ampuh untuk menentukan pemimpin yang sesuai dengan kepentingannya; dan (3) Rendahnya kemampuan dalam memahami proses PEMILU. Ketiga faktor tersebut disebabkan oleh suatu kenyataan masih rendahnya tingkat pendidikan rakyat serta sosialisasi penyelenggaraan PEMILU yang masih belum dilakukan secara maksimal.
Berdasarkan hal tersebut, Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Demokratis (KMPD) Kalimantan Barat mencoba mengambil sisi yang masih kurang diperhatikan, dengan salah satu kegiatannya melakukan Pendidikan Pemilih pada PEMILU 2009. Pendidikan Pemilih ini diberikan kepada tiga sasaran yaitu (1) Pemilih Pemula, (2) Kaum Perempuan, dan (3) Kaum Marginal. Adapun salah satu penyelenggaraan pendidikan pemilih dengan target pemilih pemula dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Anjungan, Kabupaten Pontianak.
2.2 Tujuan kegiatan
a. Menambah wawasan peserta tentang Demokrasi dan PEMILU 2009, sehingga aktif mengikuti setiap tahapan PEMILU 2009.
b. Meningkatkan pemahaman peserta untuk menjadi pemilih yang cerdas.
c. Menambah pengetahuan peserta tentang surat suara sah dan tidak sah, sehingga paham dalam mencontreng surat suara yang benar saat PEMILU 2009.
2.3 Hasil yang Diharapkan
a. Peserta dapat memahami Demokrasi dan PEMILU 2009, sehingga aktif mengikuti setiap tahapan PEMILU 2009.
b. Peserta menjadi pemilih yang cerdas.
c. Peserta paham cara mencontreng surat suara yang benar saat PEMILU 2009.
2.4 Metode
Pendidikan pemilih ini menggunakan beberapa metode;
a. Ceramah dan tanya jawab
b. Diskusi Kelompok
c. Simulasi
d. Permainan
2.5 Pencapaian hasil
a. Peserta memahami kekuatan yang mereka miliki.
Saat perkenalan fasilitator mengarahkan peserta berdiskusi tentang kekuataan yang mereka miliki. Sebelumnya peserta dibagi ke dalam 3 kelompok. Setiap orang di dalam kelompok menuliskan satu kata yang menjadi “kekuataan atau kelebihannya” di metaplan. Selanjutnya kata-kata di metaplan disusun, sehingga menjadi sebuah kalimat. Pada sessi ini peserta juga diminta untuk membuat yel-yel kelompok. Suasana sessi ini terasa meriah. Saat presentasi, disamping menjelaskan hasil diskusi kelompok, setiap kelompok juga menampilkan yel-yelnya. Berikut ini adalah kalimat-kalimat yang disusun oleh ketiga kelompok peserta:
Kelompok I:
“ Sebagai manusia yang baik kita harus adil, baik hati, dan harus bertanggung jawab. Kita tidak boleh cuek, harus jujur, sehingga menjadi orang yang ramah dan suka menolong.”
Presentasi Diskusi tentang Kekuatan Kelompok 1
Kelompok II:
“ Kami anak SMA Negeri 1 Anjungan akan memilih calon yang pemaaf, jujur, adil, anti korupsi, setia, tidak pelit pada masyarakat dan tegas, sehati, baik, bijaksana dan menjalankan kewajibannya dengan penuh rasa tanggung jawab pada janji-janjinya.”
Diskusi Kelompok 2 tentang Kekuatan Diri
Kelompok III:
Diskusi Kelompok 3 tentang Kekuatan Diri & Presentasi Hasil Diskusi Kelompok
“ Kami akan memilih pemimpin yang jujur dan tidak pernah omong kosong, bertanggung jawab, tegas, visioner, dapat menciptakan sesuatu yang baru di masa depan, bijaksana dalam mengambil suatu keputusan, disiplin, adil, dan peduli terhadap sesama.”
Berikut kesepakatan peserta pelatihan:
1. Tidak boleh ribut
2. Tidak boleh makan
3. Jika peserta ingin keluar, harus meminta ijin terlebih dahulu.
4. Pelatihan dilaksanakan hingga pukul 12.00 WIB
5. Harus sungguh-sungguh
b. Penyampaian materi ”Demokrasi dan Pemilu”
Materi demokrasi dan pemilu ini disampaikan oleh Dedy Armayadi. Metode yang digunakan dalam penyampaian materi ini adalah dialog dan tanya jawab, serta diskusi, yang kemudian dilanjutkan dengan presentasi masing-masing kelompok. Kelompok yang digunakan seperti kelompok saat sessi perkenalan dan kesepakatan.
Pada bagian pertama sessi ini, fasilitator terlebih dahulu bertanya kepada masing-masing kelompok tentang arti demokrasi. Jawaban kelompok 1 dan kelompok 3 tidak jauh berbeda. Menurut kedua kelompok ini demokrasi adalah kebebasan menyampaikan pendapat. Jawaban berbeda diberikan kelompok 2. Menurut kelompok 2, demokrasi adalah pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat.
Untuk memperjelas bahasan, fasilitator menyampaikan arti kata demokrasi yang berasal dari bahasa Yunani. Menurut pemateri, demokrasi terdiri dari 2 kata yakni demos dan kratos. Demos berarti rakyat, sedangkan kratos artinya kekuasaan. Jadi, demokrasi dapat diartikan sebagai kekuasaan dari, oleh, dan untuk rakyat.
Demokrasi sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Ia berkaitan dengan pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil dengan musyawarah dan melibatkan banyak pihak dapat dikatakan sebagai keputusan yang demokratis. Contoh berdemokrasi di sekolah antara lain adalah pemilihan ketua kelas atau pemilihan ketua OSIS secara langsung.
Selepas menjelaskan arti kata demokrasi dan contoh praktek berdemokrasi di sekolah, fasilitator kemudian meminta kepada peserta untuk bercerita tentang pengalaman mereka berdemokrasi.
Tidak lama kemudian, salah satu peserta bercerita tentang pengalamannya ikut dalam pemilihan Ketua OSIS. Ia bercerita tentang proses pemilihan Ketua OSIS yang dipilih secara langsung oleh seluruh siswa di SMA Negeri 1 Anjungan. Menurutnya, pemilihan Ketua OSIS boleh dikatakan sebagai proses yang demokratis, karena memberikan kesempatan kepada siswa, anggota OSIS untuk menentukan siapa pemimpinnya.
Seorang Siswa menceritakan Pengalamannya Berdemokrasi
Untuk menambah wawasan peserta, fasilitator juga menjelaskan tentang demokrasi yang pernah dilaksanakan di Indonesia. Menurut fasilitator, sedikitnya Indonesia telah melaksanakan 4 fase demokrasi, yakni demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila, dan demokrasi di era reformasi. Demokrasi di era reformasi telah banyak mengalami perubahan. Kini pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung. Namun demikian, demokrasi yang kini berlangsung di Indonesia masih sebatas demokrasi prosudural, belum subtantif. Proses berdemokrasi di Indonesia baru menjalankan prosedur dari tahapan-tahapan demokrasi, namun belum menyentuh pada hakikat demokrasi.
Demokrasi dan Pemilu adalah alat agar suara/harapan rakyat dapat diwujudkan oleh pemerintahan terpilih. Pemerintahan terpilih yang dimaksud adalah pemimpin negara dan daerah, serta wakil rakyat baik yang duduk di DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD. Sebelum memilih hendaknya kita mengungkapkan harapan dan impian kita kepada calon wakil rakyat atau pemerintahan terpilih, sehingga mereka tahu dan dapat mewujudkannya
c. Poster tentang harapan kepada pemerintahan terpilih 2009-2014.
Selepas memberikan pengantar mengenai demokrasi dan pemilu, fasilitator mengarahkan peserta untuk mendiskusikan tentang harapan mereka. Pertanyaan yang hendak dijawab yakni, apa harapan adik-adik kepada pemerintahan terpilih 2009-2014 kelak? Diskusi untuk membahas pertanyaan ini dilakukan di dalam kelompok yang sama seperti sessi sebelumnya. Pemateru menginstruksikan jawaban peserta ditampilkan dalam bentuk gambar atau poster. Berikut poster dan harapan ketiga kelompok peserta:
Kelompok 1
Poster “Anti Korupsi” dan Harapan Kelompok 1
Kelompok 2
Poster “Tidak Butuh Pemimpin Korup” dan Harapan Kelompok 2
Kelompok 3
Poster “Prestasi Yes, Korupsi No” dan Harapan Kelompok 3
Poster yang dibuat Kelompok 3 ini cukup menarik. Temanya “Prestasi Yes, Korupsi No”. Di dalam poster itu ada gambar tangan sebagai simbol “anti”, sedangkan pada lembar berikutnya terdapat gambar tikus yang di otaknya hanya dipenuhi lembaran-lembaran uang. Dari poster ini, kelompok 3 berharap permerintahan terpilih nantinya tanggap terhadap korupsi. Dalam poster tertulis ungkapan-ungkapan seperti; “tanggap korupsi, kami tidak ingin negara kami penuh dengan koruptor”; “Hindari korupsi men!”; “Prestasi, Yes, Korupsi, No”; “Ciptakan negara maju tanpa korupsi. Hidup Aman dan Tentram”
d. Penyampaian materi; “Menjadi Pemilih Cerdas”.
Materi ini disampaikan oleh Dedy Armayadi. Metode yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab. Metode ini digunakan karena dari hasil diskusi kelompok sebelumnya peserta telah mengungkapkan kriteria pemimpin atau calon seperti apa yang layak pilih. Pemateri hanya mempertegas tentang bagaimana menjadi pemilih cerdas, bagaimana menilai calon dan partai, dan mengapa kita harus ikut berpartisipasi dalam Pemilu 2009.
Pemateri Menjelaskan Materi; “Menjadi Pemilih Cerdas”
Saat menyampaikan materi, fasilitator menjelaskan tentang kriteria pemilih cerdas yang antara lain yaitu:
Pemilih yang bisa membedakan informasi yang jujur dan manipulatif
Pemilih yang sadar menyikapi keriuhan pesta demokrasi
Memastikan agar suara kita atau pilihan kita kepada orang yang bisa membawa aspirasi kita.
Selain itu, fasilitator juga menyampaikan bagaimana cara menilai calon. Berikut beberapa kriteria yang disampaikan:
Prestasi Calon – bermanfaat kepada orang banyak, dicapai secara jujur
Janji saat kampanye – masuk akal atau sekedar pemanis saja
Indikasi korupsi – lihat gaya hidupnya, apakah sesuai dengan pekerjaannya.
Perilaku keseharian
Sedangkan untuk menilai partai peserta diajak untuk melihat dari aspek-aspek sebagai berikut:
Apakah anggota partai banyak yang terlibat korupsi?
Sering kisruh misalnya memperebutkan posisi atau anggotanya pecah
Tidak punya program yang berkesinambungan
Tidak mempunyai sikap jelas atas pelanggaran yang dilakukan anggotanya
Selanjutnya fasilitator bertanya kepada peserta tentang mengapa kita harus ikut berpartisipasi dalam pemilu 2009? Beberapa jawaban peserta adalah:
Karena biaya pemilu besar. Uang untuk membiayai pemilu diambil dari rakyat. Makanya sayang kalau kita tidak ikut pemilu.
Karena kita punya hak pilih. Saat pemilu kita tidak boleh menyia-nyiakan hak pilih kita.
Karena kita warga negara Indonesia, yang harus ikut juga menentukan perubahan di Indonesia.
Untuk meredakan ketegangan setelah serius berdiskusi, fasilitator memberikan game /permainan “Membuat Menara Kertas” kepada peserta. Peserta yang telah bergabung ke dalam kelompok diminta untuk membuat menara hanya dari kertas tanpa menggunakan bahan lainnya. Menara yang dibuat akan dinilai dengan 3 indikator yaitu; Keaslian Ide, Ketinggian, dan Kekokohan. Sessi ini terasa ramai dan meriah. Peserta berlomba-lomba membuat menara yang paling inovatif, tinggi dan kokoh.
Diskusi, Hasil, dan Pengujian dalam Permainan “Membuat Menara Kertas”
Pada akhir permainanan fasilitator bertanya tentang makna atau pelajaran yang dapat dipetik dari game “Membuat Menara Kertas”. Beberapa jawaban peserta antara lain yaitu:
Kita perlu menjaga kekompakkan
Kita harus saling bekerja sama dalam mengerjakan sesuatu.
Berdiskusi/bermusyawarah terlebih dahulu sebelum bekerja.
Kita harus kreatif dan inovatif
e. Penyampaian materi; “Hari Pemilu”
Materi Hari Pemilu disampaikan oleh Pebruantoni. Metode yang digunakan dalam materi ini adalah ceramah dan tanya jawab. Dalam materi ini fasilitator menyampaikan tentang tahapan pelaksanaan pemilu dan bagaimana mencentang yang benar agar surat suara dinyatakan sah. Fasilitator juga menyampaikan tentang surat suara yang tidak sah. Dasar pemateri memberikan materi ini yaitu PERPPU No. 1 Tahun 2009, PER_KPU No.03 Tahun 2009, dan PER_KPU No. 13 Tahun 2009.
Pertama-tama, fasilitator menjelaskan tentang tahapan pelaksanaan pemilu yakni:
1. Pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih.
2. Pendaftaran peserta pemilu.
3. Penetapan peserta pemilu.
4. Penetapan jumlah kursi dan daerah pemilihan.
5. Pencalonan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD Kab/Kota.
6. Masa Kampanye
7. Masa Tenang
8. Pemungutan dan perhitungan suara.
9. Penetapan hasil pemilu.
10. Pengucapan sumpah/janji anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD Kab/Kota.
Selanjutnya fasilitator menjelaskan tentang contoh surat suara. Ada empat surat suara pada waktu pemilu yang akan dicentang, yakni surat suara DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD.
Fasilitator menjelaskan tentang contoh surat suara
Setelah itu fasilitator menjelaskan tentang bagaimana cara mencentang, surat suara sah, surat suara yang dianggap sah, dan surat suara ridak sah. Sebelumnya fasilitator telah menyediakan contoh surat suara pada selembar kertas. Kertas tersebut menjadi media simulasi cara mencentang. Menurut pemateri ada beberapa bentuk pencentangan/pencontrengan, yaitu; (√), (x), dan (-). Pencentangan dinyatakan sah jika dilakukan dalam kolom partai dan atau kolom nama partai politik. Surat suara dinyatakan sah jika surat hanya mencoret nama calon, dengan catatan tidak boleh melewati garis kolom. Pencentangan tidak diperbolehkan di luar kolom tersebut, dan tidak boleh mencentang lebih dari 1 calon legislatif.
Penjelasan tentang cara mencentang surat suara
Pada sessi ini peserta banyak bertanya. Beberapa pertanyaan peserta diantaranya yaitu;
Soal pencentangan tidak sempurna, siapa yang berhak mendapatkan suara?
Kalau kita mencoblos surat suara apakah dianggap sah?
Kalau ada orang buta, siapa yang membantu?
Boleh tidak membawa kartu calon ke dalam bilik suara?
Fasilitator menjawab satu per satu pertanyaan dari peserta. Soal pencentangan yang tidak sempurna, fasilitator menjelaskan bentuknya seperti (\) dan (/). Menurut fasilitator, untuk centang tidak sempurna ini calon yang diakui berada tepat pada sudut bawah pencentangan.
Berkaitan dengan jika surat suara tercoblos, fasilitator menjelaskan surat suara tersebut tetap dianggap sah jika masih berada di dalam kolom. Kalau ada orang buta atau cacat, lansia, pemilih akan dibantu petugas KPPS. Petugas KPPS tidak boleh curang, dan harus bertanggung jawab dengan tugasnya.
Warga yang ingin mencentang tidak diperbolehkan membawa kartu calon. Pada hari pemilu di sekitar TPS harus bersih dari atribut kampanye. Terkecuali atribut TPS seperti surat suara, denah TPS, poster cara mencentang, dan sebagainya.
Sessi materi “Hari Pemilu” ditutup dengan menyanyikan lagu “Tanah Airku” bersama-sama.
Peserta antusias menyanyikan lagu “Tanah Airku”
f. Hasil Evaluasi dan Penutupan
Sebagai bahan pembelajaran dan untuk mengetahui penilaian peserta terhadap penyelenggaraan pelatihan, tim trainer meminta kepada 10 peserta mengisi lembar evaluasi kegiatan. Pengisian lembar evaluasi ini dilakukan secara mandiri oleh peserta pelatihan.
Peserta mengisi lembar evaluasi pelatihan
Berikut hasil evaluasi kegiatan dari peserta:
No Description Score
Jelek
(Orang) Tidak Bagus
(Orang) Biasa
(Orang) Bagus
(Orang) Sangat Bagus
(Orang)
1 Kemampuan fasilitator dalam menjelaskan materi training 2 7 1
2 Kemampuan fasilitator dalam menumbuhkan partisipasi dan semangat peserta 1 5 4
3 Kemampuan dalam menjawab berbagai pertanyaan dari peserta 4 5 1
4 Ketepatan methodologi pelatihan 4 4 2
5 Dukungan alat-alat (Handout, LCD, perlengkapan, dsb) 1 1 4 4
6 Fasilitas akomodasi 3 7
7 Kualitas penyelenggaraan training secara keseluruhan 1 4 5
Pertanyaan mengenai “pengetahuan” secara umum dapat dijawab oleh peserta. Namun ada dua jawaban yang perlu diperhatikan, yakni tentang sessi yang disukai peserta dan saran perbaikan dari peserta.
Berikut jawaban tentang sessi yang dianggap peserta paling menarik:
Sessi membuat poster “harapan/impian kepada pemerintahan terpilih”
Sessi permainan “Membuat Menara dari Kertas”
Sessi materi “cara mencontreng/mencentang yang benar”
Sessi diskusi kelompok
Saat presentasi hasil diskusi kelompok
Adapun saran dari peserta guna perbaikan pelatihan yaitu;
Harus tegas dengan siswa, agar tidak ribut.
Menambah alat elektronik (mungkin maksudnya LCD) supaya pengetahuan siswa lebih memadai.
Penjelasan materinya dibuat lebih detail dan dimantapkan.
Selepas mengisi lembar evaluasi, kegiatan dilanjutkan dengan PENUTUPAN. Bapak Sukirno, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Anjungan memberikan sambutannya, sekaligus menutup acara Pendidikan Pemilih (Votter Education). Kepala Sekolah mengucapkan terima kasih kepada Tim Trainer dari KMPD yang telah memberikan pengetahuan dan wawasan tentang demokrasi, pemilu, dan bagaimana mencentang yang benar kepada siswa-siswinya. Kepala Sekolah berharap kepada siswa-siswi yang mengikuti kegiatan ini juga dapat berbagi kepada teman-teman lain, orang tua, dan pihak-pihak lain yang belum mendapatkan sosialisasi Pemilu 2009. Terakhir, kepala sekolah memohon maaf jika terdapat tindakan siswanya yang kurang berkenan kepada tim trainer.
Kepala Sekolah memberikan sambutan sekaligus menutup
Kegiatan Pendidikan Pemilih di SMA N 1 Anjungan.
Setelah penutupan, Tim Trainer bersama peserta foto bersama. Karena jumlah pesertanya cukup banyak, disepakati pemotretan dilakukan tiga sessi.
Foto bersama; peserta, tim trainer dan kepala sekolah.
2.6 Tantangan
Tantangan utama dalam pelatihan ini datang dari peserta. Saat fasilitator memberikan penjelasan, terkadang peserta ribut, dan lempar-lemparan kertas. Agar suasana kembali tenang, fasilitator harus berulang kali mengingatkan.
Di dalam ruang kelas tidak tersedia mikrofon atau pengeras suara. Dengan jumlah peserta yang mencapai 62 orang, sementara ruang pertemuan tidak terlalu luas, mengajak peserta untuk tenang cukup kerepotan juga. Untungnya salah satu fasilitator, saat pembukaan telah memberikan kata sandi kepada peserta. Kata sandinya berupa ungkapan “hello” yang dijawab “hay”. Begitu pula sebaliknya, ungkapan “hay” dijawab “hello”. Jadi, jika peserta ribut, fasilitator tinggal mengucapkan kata sandi. Setelah suasana kembali tenang, baru fasilitator kembali melanjutkan materi.
2.7 Pelajaran yang diambil/rekomendasi
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari pelatihan ini yaitu:
1. Pendekatan kepada pihak sekolah tidak menemukan kendala berarti. Kebetulan salah satu fasilitator kenal dengan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Anjungan, sehingga untuk konfirmasi kegiatan jadi lebih mudah. Namun demikian, prosedur pelaksanaan kegiatan di SMA ini tetap dipenuhi.
2. Siswa-siswi SMA sudah terbiasa mendengarkan materi dari gurunya dengan metode ceramah. Pada pertemuan ini tim trainer menggunakan metode diskusi kelompok, permainan, dan simulasi. Ceramah dan tanya jawab hanya khusus pada materi tertentu. Variasi metode ini digunakan untuk mengurangi kejenuhan dan meningkatkan partisipasi peserta. Terbukti dari hasil evaluasi kegiatan, sessi-sessi diskusi kelompok, membuat poster, dan permainan “membuat menara dari kertas” disukai dan diikuti peserta dengan antusias.
3. Berdasarkan hasil diskusi kelompok berupa “poster harapan dan impian” dan menyusun kalimat dari kekuatan yang dimiliki peserta, dapat disimpulkan bahwa peserta memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup baik tentang siapa yang kelak mereka pilih. Meskipun belum pernah mengikuti pemilu, peserta yang umumnya pemilih pemula ini ternyata telah “menjadi pemilih cerdas”. Diskusi kelompok dan membuat poster merupakan sessi yang menuntut kreatifitas peserta, namun dapat menggambarkan sejauh mana kapasitas peserta dalam berkreatifitas. Untuk itu, ke depan, sessi yang memberikan kesempatan peserta untuk berkreatifitas dan menumpahkan ekspresinya ini perlu didorong dan diprioritaskan.
4. Untuk mengatasi keributan peserta, fasilitator tidak harus marah-marah. Saat peserta ribut, fasilitator lebih baik melakukan pendekatan dengan empati. Mencoba memahami kondisi peserta terlebih dahulu, selanjutnya fasilitator memberi ketegasan berdasarkan kesepakatan bersama. Misalnya, kalau ketahuan ribut atau lempar-lemparan kertas akan diberikan sanksi berupa push up di depan kelas. Pendekatan ini ternyata efektif diterapkan kepada peserta.
5. Kekompakkan tim trainer merupakan salah satu aspek kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan. Pelaksanaan pendidikan pemilih di SMA Negeri 1 Anjungan ini adalah kegiatan yang ke-6, sehingga fasilitator telah menguasai alur kegiatan dan paham dengan peran masing-masing.
Senin, 05 Oktober 2009
ve peresak bersama teman-teman. pebruantoni
LAPORAN KEGIATAN ELECTION MDP
Mitra Pelaksana LPS AIR dan Pengurus Mesjid Nurul Jannah
Kegiatan Votter Education Pemilihan Presiden 2009 untuk kaum marjinal
Tempat Dapil Kabupatem Bengkayang 2 (Dusun Peresak Desa Sui raya Kepulawan, Kecamatan Sui Raya Kepulawan, Kabupaten Bengkayang)
Tanggal Pelaksanaan 17 Juni 2009
Tanggal Rencana Pelaksanaan 17 Juni 2009
Waktu pelaksanaan Pukul 19:15-23:45
Alasan Penundaan -
Undangan Undangan yang sebar sebanyak 125 buah baik laku-laki danperempuan dari segala unsur, namun dititikberatkanpada kaum marjinal
Narasumber Tim Trainer terdiri dariPebruantoni (trainer), Yayan Putra Ayu(asisten trainer), Fahrurrazi (notulensi)
Jumlah Peserta Laki-laki: 74 orang Pemilih Muda:
Perempuan: 11 orang Penyandang Cacat:-
Latar Belakang Peserta Petani, buruh bangunan, tokoh masyarakat, perempuan dan tokoh masyarakat
Reporter Yayan Putra Ayu
Latar Belakang Kegiatan:
Setelah sukses melalui Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif, rakyat Indonesia kembali menghadapi proses pergantian kepemimpinan melalui Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) pada 8 Juli 2009 mendatang.
Carut marutnya proses pemilu legislatif, seperti sistem penandaan pada surat suara, daftar pemilih, panitia pemilihan, dan ditambah kecurangan-kecurangan antar peserta pemilu semakin mempertegas untuk terus dilakukannya pendidikan pemilih agar masyarakat semakin cerdas dan kritis dalam melihat realita lapangan.
Bercermin pengalaman PEMILU sebelumnya, rendahnya partisipasi rakyat Kalimantan Barat dalam pemilu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: (1) informasi PEMILU yang tidak dapat menjangkau secara luas ke seluruh lapisan masyarakat. Ini disebabkan oleh kondisi geografis kalimantan barat yang luas, namun memiliki keterbatasan infrastruktur serta penyebaran penduduk yang terpencar samapai wilayah pesisir dan pedalaman, (2) Rendahnya pemahaman tentang arti penting PEMILU. Disebabkan oleh pemahaman pemilu sebagai sarana demokrasi yang ampuh untuk menghasilkan pemimpin sesuai dengan kepentingan masyarakat dan negara.dan (3) Rendahnya kemampuan memahami proses pemilu. Ketiga faktor tersebut di sebabkan olehkenyataan masih rendahnya tingkat pendidikan rakyat serta sosialisasi penyelenggaraan PEMILU yang masih belum di lakukan secara maksimal.
Walaupun hampir keseluruhan pemilih telah mengetahui tata cara pemilu, namun perubahan-perubahan terbaru tentang aturan main dalam Pilpres kali ini tetap mesti dilakukan, hal ini dikarenakan masih terdapat lebih dari 20 persen tingkat keselahan pemilih dalam Pileg kemarin sekala nasional. Hal ini menjadikan menjadikan evaluasi terhadap proses penyelenggaraan pemilu, terutama dalam hal sosialisasi terhadap pelaksanaan pemilu dan tatacara pemberian surat suara yang sah, Selain itu proses pemahaman kepada rakyat tentang arti pentingnya sebuah proses demokratisasi dan menilai pemimpin yang tepat perlu dilakukan secara berkesinambungan, sehingga kedepan pemilu sebagai momentum perubahan bangsa dapat lebih berkualitas, dengan calon pemimpin yang berkualitas pula.
Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Demokratis (KMPD) Kalimantan Barat mencoba mengambil sisi yang masih kurang diperhatikan, dengan salah satu kegiatan melakukan pendidikan Pemilih pada Pemilu 2009 untuk memperkuat dan menambah pemahaman masyarakat akan penting pemilu yang merupakan untuk menuju sebuah negara demokratis dan menjadi masyarakat sebagai pemilih pemilih cerdas.
Tujuan dari Kegiatan:
Adapun tujuan kegiatan Training Pendidikan Pemilu 2009 yang akan di laksanakan ada beberapa dasar pertimbangan sebagai berikut:
1. Meningkatkan wawasan peserta tentang Demokrasi dan Pemilu 2009, sehingga aktif mengikuti setiap tahapan PEMILU 2009 maupun evaluasi pemilu sebagai catatan untuk pemilu 5 tahun akan datang.
2. Meningkatkan kesadaran hukum para peserta training pendidikan pemilih terutama sanksi pidana.
3. Meningkatkan pemahaman peserta untuk menjadi pemilih cerdas dalam melihat calon-calon legeslatif dan turut serta mengawasi proses pemilu dari proses pendaftaran sampai penghitungan suara di TPS.
4. Peserta paham tata cara menandai pada surat suara.
5. Agar masyarakat dapat memberikan suaranya sesuai dengan hati nurani dan tampa ada tekanan dari siapapun,
6. meminimalisir suara yang rusak pada pemilu presiden 8 juli 2009,
Outputs/ Hasil Yang Diharapkan:
Bahwa kegiatan Training Pendidikan Pemilu 2009 untuk masyarakat, kaum marginal dan pemilih pemula di harapkan yang dilaksanakan akan mencapai hasil yang di harapkan sebagaiberikut;
1. Peserta dapat memahami makna demokrasi dan pemilu 2009, sehingga masyarakat dapat mengikuti pemilu serta menilai hasil-hasil pemilu yang telah dilakukan sebagai reverensi pemilu berikutnya.
2. Masyarakat memahami tentang hak dan tanggung jawab hukum serta sanksi pidana terhadap prilaku yang menyimpang dari proses pemilu tahun 2009.
3. Masyarakat memahami karakter caleg serta visi misi sesuai program yang di ajukan dan menentukan pilihannya dalam pemilu 2009.
4. Masyarakat memahami cara menconteng sesuai dengan ketentuan yang benar berdasarkan Keputusan KPU
5. Agar suara yang diberikan oleh masyarakat dapat membawa perubahan bagi kemajuan negara.
6. Agar tidak terjadi lagi kesalahan dan kebingungan dalam memberikan surat suara.
Metode:
Untuk mencapai tujuan kegiatan dan pemahaman terhadap materi yang disampaikan kepada peserta Tim menggunakan metode ceramah, diskusi. Dan Simulasi Pencontrengan yang sah.
Capain Hasil/ output:
No Bentuk Penyampaian Capaian
1 Pemberian Makalah Peserta mampu menggunakan makalah sebagai panduan diskusi serta pemaparan pemateri dan dapat di pelajari secara mandiri oleh peserta
2 Pemaparan Materi Peserta mampu menyelami lebih dalam terhadap materi yang telah di berikan
3 Tanya Jawab Membangun interaksi antara pemateri dan peserta.
4 Diskusi Kelompok Terbentuknya Kelompok diskusi dari peserta dan melakukan kerjasama anatara anggota kelompok terhadap beberapa pertanyaan dalam materi yang di berikan
5 Simulasi pencontrengan Peserta mampu mengikuti proses – proses pencontrengan pada gambar yang telah di sediakan oleh Pemateri dan peserta mengerti bagaimana mencontreng dengan benar.
Selain mampu menerima materi pelatihan peserta juga mulai mengerti tentang arti pentingnya sebuah proses demokratisasi yang salah satu cara untuk mencapainya dengan pemilu. Kemudian dalam menghadapi pemilu ini, memahami visi misi dan program pembangunan yang disampaikan oleh setiap pasangan capres dan cawapres.
Pelaksanaan Kegiatan
Pendidikan pemilih kali ini dilaksanakan pada malam hari dari pukul 19:15 sampai dengan pukul 23:45, pelaksanaan baru bisa dilaksanakan pada malam hari dikarenakan masyarakatnya pada pagi sampai sore hari bekerja mencari rejeki. para peserta pelatihan pendidikan yang diadakan di dusun peresak ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, petani, buruh bangunan lepas, perempuan, dan Remaja yang tergabung dalam kelompok marjinal.
Evaluasi Pelaksanaan:
Evaluasi dilakukan oleh setiap kelmpok yang telah dibentuk oleh fasilitator
No Description Score
1 2 3 4 5
1 Kemampuan fasilitator dalam menjelaskan materi training 1 8 1
2 Kemampuan fasilitator dalam menumbuhkan partisipasi dan semangat peserta 5 4 1
3 Kemampuan dalam menjawab berbagai pertanyaan dari peserta 2 5 3
4 Ketepatan methodelogi pelatihan 2 6 2
5 Dukungan alat-alat (Handout, LCD, Perlengkapan, dsb) 5 4 1
6 Fasilitas Akomodasi 7 3
7 Kualitas penyelenggaraan training secara keseluruhan 2 6 2
Materi Pelatihan:
Secara umum materi yang dihadirkan dalam pendidikan pemilih kali ini mengulang materi yang pernah di sampaikan mengenai pentingnya masyarakat memahami proses demokratisasi yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia, yang salah satunya adalah pemilihan umum.
Namun materi kali ini lebih menitik beratkan pada bagaimana peserta lebih menggunakan rasionalitasnya dari pada emosi untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada tanggal 8 Juli 2009 mendatang. Karena itu trainer memberikan informasi mengenai visi-misi dan program seluruh kandidat capres-cawapres sehingga peserta (masyarakat daerah yang terbatas akses informasinya) mengetahi lebih jauh mengenai calon pemimpin mereka.
Selain itu peserta juga diberikan materi mengenai cara memilih calon pemimpin yang layak, dimana materi yang disampaikan seperti dibawah ini :
Bagaimana Calon Presiden dan Wakil Presiden Ditentukan?
Dalam pasal 9 UU No.42 Tahun 2008, calon Presiden dan Wakil Presiden di calonkan oleh parai politik ataupun gabungan partai politik, dimana bunyi dari pasal tersebut adalah: “Pasangan calon diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam pemilu anggota DPR, sebelum pelaksanaan pemilu presiden dan wakil presiden.”
Artinya calon presiden dan calon wakil presiden haruslah diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik (bisa lebih dari dua partai politik) peserta pemilu tahun 2009 yang memperoleh paling sedikit 20% dari total 560 kursi di DPR atau minimal memperoleh 112 (seratus dua belas) kursi.
Bagaimana kita memilih Presiden dan Wakil Presiden yang tepat
Kadangkala dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, jumlah calon-calon yang maju sangat banyak, selain itu informasi mengenai siapa calon tersebut juga sangat kurang, sehingga menyebabkan kebingungan di tingkatan masyarakat siapa sebenarnya calon yang paling baik.
Untuk menilai calon, kita bisa meminta informasi yang diberikan oleh tim-tim pemenangan (biasanya di sekretariat partai pengusung), namun informasi ini cenderung subjektif (tidak seimbang), karena tim biasanya hanya memberikan sisi positif dari calon yang diusungnya sehingga kita tidak mengetahui kelemahan dari calon tersebut. Tetapi beberapa cara lain dapat digunakan untuk menilai calon, antara lain:
- Prestasi calon
- Apakah prestasi tersebut mencapai level yang pantas dibanggakan, setidaknya dalam ukuran anda? Apakah prestasi tersebut memberi manfaat kepada orang banyak? Apakah sang calon sangat berdedikasi dalam bidang tersebut?
- Janji-janji saat berkampanye
- Apakah janji-janji itu masuk akal, atau sekedar penarik hati pemilih?
- Apakah janji-janji itu membuat kita tumbuh sebagai bangsa? Apakah ada penjelasan bagaimana mencapainya?
- Indikasi korupsi
- Perhatikan cara hidupnya. Jika tidak sepadan dengan pekerjaannya, walaupun belum tentu korupsi, maka kita pantas mencurigainya dan berhati-hati menempatkannya sebagai pemimpin.
- Perilaku dalam keseharian.
- Carilah informasi mengenai perilakunya sehari-hari. Jangan memilih mereka yang memiliki catatan perilaku buruk, misalnya egois, suka menghamburkan uang, berselingkuh, atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Setelah pemaparan diatas, materi dilanjutkan dengan memaparkan visi-misi dan program dari masing-masing kandidat.
Pemaparan visi-misi dan program seluruh capres-cawapres yaitu:
Mega-Prabowo
Visi dan Misi: “GOTONG ROYONG MEMBANGUN KEMBALI INDONESIA YANG BERDAULAT, BERMARTABAT, ADIL DAN MAKMUR”
1. Kedaulatan ekonomi, keuangan dan industri.
2. Memperkuat ekonomi kerakyatan
3. Menjamin kedaulatan pangan
4. Membangun kedaulatan energi
5. Memperkuat pertahanan, keamanan dan integritas wilayah
6. Menjamin kedaulatan rakyat
7. Reformasi hukum dan lembaga
8. Reformasi sektor kesehatan
9. Pelestarian alam dan lingkungan hidup
10. Pendidikan untuk semua
SBY-Budiono
Visi dan Misi: “TERWUJUDNYA INDONESIA YANG SEJAHTERA, DEMOKRATIS, DAN BERKEADILAN.”
Arah kebijakan umum pembangunan nasional 2009-2014 dalam dari pasangan SBY-Boedinono adalah sebagai berikut:
1. Arah kebijakan umum untuk melanjutkan pembangunan mencapai Indonesia yang sejahtera. Indonesia yang sejahtera tercermin dari peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dalam bentuk percepatan pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengurangan kemiskinan, pengurangan tingkatpengangguran yang diwujudkan dengan bertumpu pada program perbaikan kualitas sumber daya manusia, perbaikan infrastruktur dasar, serta menjaga dan memelihara lingkungan hidup secara berkelanjutan.
2. Arah kebijakan umum untuk memperkuat pilar-pilar demokrasi dengan penguatan yang bersifat kelembagaan dan mengarah pada tegaknya ketertiban umum, penghapusan segala macam diskriminasi, pengakuan dan penerapan hak asasi manusiaserta kebebasan yang bertanggung jawab.
3. Arah kebijakan umum untuk memperkuat dimensi keadilan di semua bidang termasuk pengurangan kesenjangan pendapatan, pengurangan kesenjangan pembangunan antar daerah
4. (termasuk desa-kota), dan kesenjangan jender. Keadilan juga hanya dapat diwujudkan bila sistem hukum berfungsi secara kredibel, bersih, adil dan tidak pandang bulu. Demikian pula kebijakan pemberantasan korupsi secara konsisten diperlukan agar tercapai rasa keadilan dan pemerintahan yang bersih. Setelah berhasil menyelesaikan program pembangunan dalam lima tahun sebelumnya (2004-2009) dengan capaian-capaian yang prestisius, maka pemerintah mendatang akan melanjutkan pendekatan pembangunan kelembagaan dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan yang telah dirumuskan sebelumnya. Pendekatan yang bersifat kelembagaan ini dimaksudkan sebagai pendekatan yangmenyeimbangkan antara pentingnya proses yang berlandaskan pada tatakelola yang baik, bersih, transparan, adil, dan akuntabel, dengan hasil yang baik dan efisien. Pemerintahan tidak seharusnya hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, dengan tidak mengindahkan azas-azas kepatutan, keadilan, dan keberlanjutan. Pendekatan ini dipandang akan memberikan hasil yang berkelanjutan karena dibangun di atas fondasi yang lebih kokoh, melewati proses yang telahdisetujui bersama secara demokratis, serta dengan rasa memiliki yangtinggi dan akuntabel. Pembangunan kelembagaan ini tidak hanya membangunmekanisme kelembagaan yang baru tetapi juga mengembalikan kembali aturan lama yang dipandang lebih berkelanjutan ke dalam sistem. Sebagai contoh, program BOS yang selama ini dilakukan dengan partisipasi yang minimal dari pemerintah daerah, padahal UU Otonomi Daerah telah menunjukkan bahwa pendidikan merupakan tugas dari pemerintah kabupaten/kota, perlu melibatkan lebih aktif peran serta dari pemerintah daerah.
Dari program umum juga ditambah dengan program prioritas dan program aksi pembangungan nasinonal yang meliputi: Program aksi bidang pendidikan; Program aksi bidang kesehatan; Program aksi penanggulangan kemiskinan; (4) Program aksi Penciptaan Lapangan Kerja; Program aksi pembangunan infrastruktur dasar; Program aksi ketahanan pangan; Program aksi ketahanan dan kemandirian energi; Program aksi perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik; Program aksi penegakan pilar demokrasi; Program aksi penegakan hukum; Program aksi pembangunan yang inklusif dan berkeadilan; Program aksi bidang lingkungan hidup; Program aksi pengembangan kebudayan
JK-Wiranto
Visi:
INDONESIA YANG ADIL, MANDIRI DAN BERMARTABAT
Misi:
• Mewujudkan ekonomi bangsa yang mandiri, berdaya saing, dan berkeadilan.
• Mewujudkan demokrasi dan otonomi daerah yang sehat, efesien dan efektif .
• Mewujudkan ketahanan sosial budaya untuk integrasi nasional yang menjamin kebhinnekaan.
• Mewujudkan penegakan hukum dan hak asasi manusia.
AGENDA KEBIJAKAN
Bidang Ekonomi
1. Membangun Kedaulatan Pangan dan Energi
2. Meningkatkan Daya Saing Produk dalam Negeri
3. Menciptakan Struktur Ekonomi Nasional yang Adil Melalui Pemberdayaan Koperasi dan UMKM
4. Menjalankan Reformasi Agraria untuk Kesejahteraan Petani
5. Anggaran untuk Rakyat
6. Lembaga Keuangan dan Perbankan yang Mendorong Sektor Rill dan Memihak Rakyat.
7. Mempercepat Pembangunan Infrastruktur
8. Pembangunan Industri Maritim
9. Lingkungan hidup dan perubahan iklim
Bidang Politik dan Hukum
1. Memperkuat Sistem Presidensil yang Didukung Sistem Kepartaian yang Sederhana
2. Menata Kembali Fungsi Lembaga-lembaga Negara
3. Mengefektifkan Hubungan Pusat dan Daerah
4. Reformasi Birokrasi untuk Mewujudkan Penyelenggaraan Negara yang Tangkas, Tanggap, dan Cepat
5. Meningkatkan Politik Luar Negeri Indonesia dalam Kancah Internasional
6. Perlindungan Hak Asasi Manusia
7. Meningkatkan Penegakan Hukum yang Berkeadilan
8. Menciptakan Kepastian Hukum melalui Peraturan Perundangan
9. Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat
Bidang Hankam
1. Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan NKRI
2. Mengikis Tindak Kejahatan, Meningkatkan Keamanan dan Ketertiban
3. Modernisasi Alat Utama Sistem Persenjataan (alutsista) TNI Polri.
4. Peningkatan Anggaran Pertahanan dan Kemanan
Bidang Pendidikan
1. Meningkatkan Kualitas Pemerataan Pendidikan melalui Sistem Evaluasi yang Proporsional
2. Meningkatkan Penyediaan Pendidikan yang Terjangkau melalui Anggaran yang Memadai
3. Mempertegas Pendidikan Kejuruan melalui Diversifikasi Keahlian
Bidang Sosial dan Kesehatan
1. Meningkatkan Solidaritas Sosial, Kesetiakawanan, dan Memupuk Semangat Nasionalisme
2. Pemberdayaan bagi Kalangan Fakir Miskin dan Anak Terlantar
3. Meningkatkan Penyediaan Sarana dan Prasarana Kesehatan, Dokter dan Tenaga Medis yang Memadai bagi Daerah Tertinggal atau Kurang Berkembang
4. Memperluas Jangkauan Asuransi Kesehatan menuju Terwujudnya Sistem Jaminan Sosial Nasional
Setelah itu materi masuk kedalam tata cara penandaan pada kertas suara sesuai dengan peraturan KPU No. 29 Tahun 2009.
Lesson Learned/ Recomendation
1. Perlunya pendidikan politik yang terus menerus dilakukan kepada masyarakat sehingga bisa mengubah pola pikir tentang pemahaman demokratisasi.
2. Penyadaran dan pendidikan yang berkesinambungan tentang pentingnya menganalisis partai politik dan calon legislatif dalam menentukan masa depan daerah.
3. Mendorong KPU untuk meningkatkan sosialisasi pendidikan pemilih khususnya untuk daerah-daerah pedalaman sehingga masyarakat lebih memahami mengenai makna dan pentingnya pemilihan umum untuk perubahan daerahnya.
Foto-foto kegiatan ve di peresak
Jalan yang lumayan bagus menuju peresak jalan yang baru pengerasan di peresak
Jalan perkampungan diperesak jalan tanah yang belum dilakukanpengerasan
Sebagian besar rumag penduduk seperti ini jembatannya masih menggunakan papan
Ibu-ibu yang membawa anaknya peserta Veyang semangat mengikuti kegiatan
Trainer lagi membagikan bolpoin buat peserta training peserta lagi melakukan simulasi pencontrengan
Peserta yang lagimendengarkanmateri VE Peserta lagi melakukan simulasi pencontrengan
Mitra Pelaksana LPS AIR dan Pengurus Mesjid Nurul Jannah
Kegiatan Votter Education Pemilihan Presiden 2009 untuk kaum marjinal
Tempat Dapil Kabupatem Bengkayang 2 (Dusun Peresak Desa Sui raya Kepulawan, Kecamatan Sui Raya Kepulawan, Kabupaten Bengkayang)
Tanggal Pelaksanaan 17 Juni 2009
Tanggal Rencana Pelaksanaan 17 Juni 2009
Waktu pelaksanaan Pukul 19:15-23:45
Alasan Penundaan -
Undangan Undangan yang sebar sebanyak 125 buah baik laku-laki danperempuan dari segala unsur, namun dititikberatkanpada kaum marjinal
Narasumber Tim Trainer terdiri dariPebruantoni (trainer), Yayan Putra Ayu(asisten trainer), Fahrurrazi (notulensi)
Jumlah Peserta Laki-laki: 74 orang Pemilih Muda:
Perempuan: 11 orang Penyandang Cacat:-
Latar Belakang Peserta Petani, buruh bangunan, tokoh masyarakat, perempuan dan tokoh masyarakat
Reporter Yayan Putra Ayu
Latar Belakang Kegiatan:
Setelah sukses melalui Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif, rakyat Indonesia kembali menghadapi proses pergantian kepemimpinan melalui Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) pada 8 Juli 2009 mendatang.
Carut marutnya proses pemilu legislatif, seperti sistem penandaan pada surat suara, daftar pemilih, panitia pemilihan, dan ditambah kecurangan-kecurangan antar peserta pemilu semakin mempertegas untuk terus dilakukannya pendidikan pemilih agar masyarakat semakin cerdas dan kritis dalam melihat realita lapangan.
Bercermin pengalaman PEMILU sebelumnya, rendahnya partisipasi rakyat Kalimantan Barat dalam pemilu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: (1) informasi PEMILU yang tidak dapat menjangkau secara luas ke seluruh lapisan masyarakat. Ini disebabkan oleh kondisi geografis kalimantan barat yang luas, namun memiliki keterbatasan infrastruktur serta penyebaran penduduk yang terpencar samapai wilayah pesisir dan pedalaman, (2) Rendahnya pemahaman tentang arti penting PEMILU. Disebabkan oleh pemahaman pemilu sebagai sarana demokrasi yang ampuh untuk menghasilkan pemimpin sesuai dengan kepentingan masyarakat dan negara.dan (3) Rendahnya kemampuan memahami proses pemilu. Ketiga faktor tersebut di sebabkan olehkenyataan masih rendahnya tingkat pendidikan rakyat serta sosialisasi penyelenggaraan PEMILU yang masih belum di lakukan secara maksimal.
Walaupun hampir keseluruhan pemilih telah mengetahui tata cara pemilu, namun perubahan-perubahan terbaru tentang aturan main dalam Pilpres kali ini tetap mesti dilakukan, hal ini dikarenakan masih terdapat lebih dari 20 persen tingkat keselahan pemilih dalam Pileg kemarin sekala nasional. Hal ini menjadikan menjadikan evaluasi terhadap proses penyelenggaraan pemilu, terutama dalam hal sosialisasi terhadap pelaksanaan pemilu dan tatacara pemberian surat suara yang sah, Selain itu proses pemahaman kepada rakyat tentang arti pentingnya sebuah proses demokratisasi dan menilai pemimpin yang tepat perlu dilakukan secara berkesinambungan, sehingga kedepan pemilu sebagai momentum perubahan bangsa dapat lebih berkualitas, dengan calon pemimpin yang berkualitas pula.
Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Demokratis (KMPD) Kalimantan Barat mencoba mengambil sisi yang masih kurang diperhatikan, dengan salah satu kegiatan melakukan pendidikan Pemilih pada Pemilu 2009 untuk memperkuat dan menambah pemahaman masyarakat akan penting pemilu yang merupakan untuk menuju sebuah negara demokratis dan menjadi masyarakat sebagai pemilih pemilih cerdas.
Tujuan dari Kegiatan:
Adapun tujuan kegiatan Training Pendidikan Pemilu 2009 yang akan di laksanakan ada beberapa dasar pertimbangan sebagai berikut:
1. Meningkatkan wawasan peserta tentang Demokrasi dan Pemilu 2009, sehingga aktif mengikuti setiap tahapan PEMILU 2009 maupun evaluasi pemilu sebagai catatan untuk pemilu 5 tahun akan datang.
2. Meningkatkan kesadaran hukum para peserta training pendidikan pemilih terutama sanksi pidana.
3. Meningkatkan pemahaman peserta untuk menjadi pemilih cerdas dalam melihat calon-calon legeslatif dan turut serta mengawasi proses pemilu dari proses pendaftaran sampai penghitungan suara di TPS.
4. Peserta paham tata cara menandai pada surat suara.
5. Agar masyarakat dapat memberikan suaranya sesuai dengan hati nurani dan tampa ada tekanan dari siapapun,
6. meminimalisir suara yang rusak pada pemilu presiden 8 juli 2009,
Outputs/ Hasil Yang Diharapkan:
Bahwa kegiatan Training Pendidikan Pemilu 2009 untuk masyarakat, kaum marginal dan pemilih pemula di harapkan yang dilaksanakan akan mencapai hasil yang di harapkan sebagaiberikut;
1. Peserta dapat memahami makna demokrasi dan pemilu 2009, sehingga masyarakat dapat mengikuti pemilu serta menilai hasil-hasil pemilu yang telah dilakukan sebagai reverensi pemilu berikutnya.
2. Masyarakat memahami tentang hak dan tanggung jawab hukum serta sanksi pidana terhadap prilaku yang menyimpang dari proses pemilu tahun 2009.
3. Masyarakat memahami karakter caleg serta visi misi sesuai program yang di ajukan dan menentukan pilihannya dalam pemilu 2009.
4. Masyarakat memahami cara menconteng sesuai dengan ketentuan yang benar berdasarkan Keputusan KPU
5. Agar suara yang diberikan oleh masyarakat dapat membawa perubahan bagi kemajuan negara.
6. Agar tidak terjadi lagi kesalahan dan kebingungan dalam memberikan surat suara.
Metode:
Untuk mencapai tujuan kegiatan dan pemahaman terhadap materi yang disampaikan kepada peserta Tim menggunakan metode ceramah, diskusi. Dan Simulasi Pencontrengan yang sah.
Capain Hasil/ output:
No Bentuk Penyampaian Capaian
1 Pemberian Makalah Peserta mampu menggunakan makalah sebagai panduan diskusi serta pemaparan pemateri dan dapat di pelajari secara mandiri oleh peserta
2 Pemaparan Materi Peserta mampu menyelami lebih dalam terhadap materi yang telah di berikan
3 Tanya Jawab Membangun interaksi antara pemateri dan peserta.
4 Diskusi Kelompok Terbentuknya Kelompok diskusi dari peserta dan melakukan kerjasama anatara anggota kelompok terhadap beberapa pertanyaan dalam materi yang di berikan
5 Simulasi pencontrengan Peserta mampu mengikuti proses – proses pencontrengan pada gambar yang telah di sediakan oleh Pemateri dan peserta mengerti bagaimana mencontreng dengan benar.
Selain mampu menerima materi pelatihan peserta juga mulai mengerti tentang arti pentingnya sebuah proses demokratisasi yang salah satu cara untuk mencapainya dengan pemilu. Kemudian dalam menghadapi pemilu ini, memahami visi misi dan program pembangunan yang disampaikan oleh setiap pasangan capres dan cawapres.
Pelaksanaan Kegiatan
Pendidikan pemilih kali ini dilaksanakan pada malam hari dari pukul 19:15 sampai dengan pukul 23:45, pelaksanaan baru bisa dilaksanakan pada malam hari dikarenakan masyarakatnya pada pagi sampai sore hari bekerja mencari rejeki. para peserta pelatihan pendidikan yang diadakan di dusun peresak ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, petani, buruh bangunan lepas, perempuan, dan Remaja yang tergabung dalam kelompok marjinal.
Evaluasi Pelaksanaan:
Evaluasi dilakukan oleh setiap kelmpok yang telah dibentuk oleh fasilitator
No Description Score
1 2 3 4 5
1 Kemampuan fasilitator dalam menjelaskan materi training 1 8 1
2 Kemampuan fasilitator dalam menumbuhkan partisipasi dan semangat peserta 5 4 1
3 Kemampuan dalam menjawab berbagai pertanyaan dari peserta 2 5 3
4 Ketepatan methodelogi pelatihan 2 6 2
5 Dukungan alat-alat (Handout, LCD, Perlengkapan, dsb) 5 4 1
6 Fasilitas Akomodasi 7 3
7 Kualitas penyelenggaraan training secara keseluruhan 2 6 2
Materi Pelatihan:
Secara umum materi yang dihadirkan dalam pendidikan pemilih kali ini mengulang materi yang pernah di sampaikan mengenai pentingnya masyarakat memahami proses demokratisasi yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia, yang salah satunya adalah pemilihan umum.
Namun materi kali ini lebih menitik beratkan pada bagaimana peserta lebih menggunakan rasionalitasnya dari pada emosi untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada tanggal 8 Juli 2009 mendatang. Karena itu trainer memberikan informasi mengenai visi-misi dan program seluruh kandidat capres-cawapres sehingga peserta (masyarakat daerah yang terbatas akses informasinya) mengetahi lebih jauh mengenai calon pemimpin mereka.
Selain itu peserta juga diberikan materi mengenai cara memilih calon pemimpin yang layak, dimana materi yang disampaikan seperti dibawah ini :
Bagaimana Calon Presiden dan Wakil Presiden Ditentukan?
Dalam pasal 9 UU No.42 Tahun 2008, calon Presiden dan Wakil Presiden di calonkan oleh parai politik ataupun gabungan partai politik, dimana bunyi dari pasal tersebut adalah: “Pasangan calon diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25% (dua puluh lima persen) dari suara sah nasional dalam pemilu anggota DPR, sebelum pelaksanaan pemilu presiden dan wakil presiden.”
Artinya calon presiden dan calon wakil presiden haruslah diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik (bisa lebih dari dua partai politik) peserta pemilu tahun 2009 yang memperoleh paling sedikit 20% dari total 560 kursi di DPR atau minimal memperoleh 112 (seratus dua belas) kursi.
Bagaimana kita memilih Presiden dan Wakil Presiden yang tepat
Kadangkala dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, jumlah calon-calon yang maju sangat banyak, selain itu informasi mengenai siapa calon tersebut juga sangat kurang, sehingga menyebabkan kebingungan di tingkatan masyarakat siapa sebenarnya calon yang paling baik.
Untuk menilai calon, kita bisa meminta informasi yang diberikan oleh tim-tim pemenangan (biasanya di sekretariat partai pengusung), namun informasi ini cenderung subjektif (tidak seimbang), karena tim biasanya hanya memberikan sisi positif dari calon yang diusungnya sehingga kita tidak mengetahui kelemahan dari calon tersebut. Tetapi beberapa cara lain dapat digunakan untuk menilai calon, antara lain:
- Prestasi calon
- Apakah prestasi tersebut mencapai level yang pantas dibanggakan, setidaknya dalam ukuran anda? Apakah prestasi tersebut memberi manfaat kepada orang banyak? Apakah sang calon sangat berdedikasi dalam bidang tersebut?
- Janji-janji saat berkampanye
- Apakah janji-janji itu masuk akal, atau sekedar penarik hati pemilih?
- Apakah janji-janji itu membuat kita tumbuh sebagai bangsa? Apakah ada penjelasan bagaimana mencapainya?
- Indikasi korupsi
- Perhatikan cara hidupnya. Jika tidak sepadan dengan pekerjaannya, walaupun belum tentu korupsi, maka kita pantas mencurigainya dan berhati-hati menempatkannya sebagai pemimpin.
- Perilaku dalam keseharian.
- Carilah informasi mengenai perilakunya sehari-hari. Jangan memilih mereka yang memiliki catatan perilaku buruk, misalnya egois, suka menghamburkan uang, berselingkuh, atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Setelah pemaparan diatas, materi dilanjutkan dengan memaparkan visi-misi dan program dari masing-masing kandidat.
Pemaparan visi-misi dan program seluruh capres-cawapres yaitu:
Mega-Prabowo
Visi dan Misi: “GOTONG ROYONG MEMBANGUN KEMBALI INDONESIA YANG BERDAULAT, BERMARTABAT, ADIL DAN MAKMUR”
1. Kedaulatan ekonomi, keuangan dan industri.
2. Memperkuat ekonomi kerakyatan
3. Menjamin kedaulatan pangan
4. Membangun kedaulatan energi
5. Memperkuat pertahanan, keamanan dan integritas wilayah
6. Menjamin kedaulatan rakyat
7. Reformasi hukum dan lembaga
8. Reformasi sektor kesehatan
9. Pelestarian alam dan lingkungan hidup
10. Pendidikan untuk semua
SBY-Budiono
Visi dan Misi: “TERWUJUDNYA INDONESIA YANG SEJAHTERA, DEMOKRATIS, DAN BERKEADILAN.”
Arah kebijakan umum pembangunan nasional 2009-2014 dalam dari pasangan SBY-Boedinono adalah sebagai berikut:
1. Arah kebijakan umum untuk melanjutkan pembangunan mencapai Indonesia yang sejahtera. Indonesia yang sejahtera tercermin dari peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan dalam bentuk percepatan pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengurangan kemiskinan, pengurangan tingkatpengangguran yang diwujudkan dengan bertumpu pada program perbaikan kualitas sumber daya manusia, perbaikan infrastruktur dasar, serta menjaga dan memelihara lingkungan hidup secara berkelanjutan.
2. Arah kebijakan umum untuk memperkuat pilar-pilar demokrasi dengan penguatan yang bersifat kelembagaan dan mengarah pada tegaknya ketertiban umum, penghapusan segala macam diskriminasi, pengakuan dan penerapan hak asasi manusiaserta kebebasan yang bertanggung jawab.
3. Arah kebijakan umum untuk memperkuat dimensi keadilan di semua bidang termasuk pengurangan kesenjangan pendapatan, pengurangan kesenjangan pembangunan antar daerah
4. (termasuk desa-kota), dan kesenjangan jender. Keadilan juga hanya dapat diwujudkan bila sistem hukum berfungsi secara kredibel, bersih, adil dan tidak pandang bulu. Demikian pula kebijakan pemberantasan korupsi secara konsisten diperlukan agar tercapai rasa keadilan dan pemerintahan yang bersih. Setelah berhasil menyelesaikan program pembangunan dalam lima tahun sebelumnya (2004-2009) dengan capaian-capaian yang prestisius, maka pemerintah mendatang akan melanjutkan pendekatan pembangunan kelembagaan dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan yang telah dirumuskan sebelumnya. Pendekatan yang bersifat kelembagaan ini dimaksudkan sebagai pendekatan yangmenyeimbangkan antara pentingnya proses yang berlandaskan pada tatakelola yang baik, bersih, transparan, adil, dan akuntabel, dengan hasil yang baik dan efisien. Pemerintahan tidak seharusnya hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, dengan tidak mengindahkan azas-azas kepatutan, keadilan, dan keberlanjutan. Pendekatan ini dipandang akan memberikan hasil yang berkelanjutan karena dibangun di atas fondasi yang lebih kokoh, melewati proses yang telahdisetujui bersama secara demokratis, serta dengan rasa memiliki yangtinggi dan akuntabel. Pembangunan kelembagaan ini tidak hanya membangunmekanisme kelembagaan yang baru tetapi juga mengembalikan kembali aturan lama yang dipandang lebih berkelanjutan ke dalam sistem. Sebagai contoh, program BOS yang selama ini dilakukan dengan partisipasi yang minimal dari pemerintah daerah, padahal UU Otonomi Daerah telah menunjukkan bahwa pendidikan merupakan tugas dari pemerintah kabupaten/kota, perlu melibatkan lebih aktif peran serta dari pemerintah daerah.
Dari program umum juga ditambah dengan program prioritas dan program aksi pembangungan nasinonal yang meliputi: Program aksi bidang pendidikan; Program aksi bidang kesehatan; Program aksi penanggulangan kemiskinan; (4) Program aksi Penciptaan Lapangan Kerja; Program aksi pembangunan infrastruktur dasar; Program aksi ketahanan pangan; Program aksi ketahanan dan kemandirian energi; Program aksi perbaikan dan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik; Program aksi penegakan pilar demokrasi; Program aksi penegakan hukum; Program aksi pembangunan yang inklusif dan berkeadilan; Program aksi bidang lingkungan hidup; Program aksi pengembangan kebudayan
JK-Wiranto
Visi:
INDONESIA YANG ADIL, MANDIRI DAN BERMARTABAT
Misi:
• Mewujudkan ekonomi bangsa yang mandiri, berdaya saing, dan berkeadilan.
• Mewujudkan demokrasi dan otonomi daerah yang sehat, efesien dan efektif .
• Mewujudkan ketahanan sosial budaya untuk integrasi nasional yang menjamin kebhinnekaan.
• Mewujudkan penegakan hukum dan hak asasi manusia.
AGENDA KEBIJAKAN
Bidang Ekonomi
1. Membangun Kedaulatan Pangan dan Energi
2. Meningkatkan Daya Saing Produk dalam Negeri
3. Menciptakan Struktur Ekonomi Nasional yang Adil Melalui Pemberdayaan Koperasi dan UMKM
4. Menjalankan Reformasi Agraria untuk Kesejahteraan Petani
5. Anggaran untuk Rakyat
6. Lembaga Keuangan dan Perbankan yang Mendorong Sektor Rill dan Memihak Rakyat.
7. Mempercepat Pembangunan Infrastruktur
8. Pembangunan Industri Maritim
9. Lingkungan hidup dan perubahan iklim
Bidang Politik dan Hukum
1. Memperkuat Sistem Presidensil yang Didukung Sistem Kepartaian yang Sederhana
2. Menata Kembali Fungsi Lembaga-lembaga Negara
3. Mengefektifkan Hubungan Pusat dan Daerah
4. Reformasi Birokrasi untuk Mewujudkan Penyelenggaraan Negara yang Tangkas, Tanggap, dan Cepat
5. Meningkatkan Politik Luar Negeri Indonesia dalam Kancah Internasional
6. Perlindungan Hak Asasi Manusia
7. Meningkatkan Penegakan Hukum yang Berkeadilan
8. Menciptakan Kepastian Hukum melalui Peraturan Perundangan
9. Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat
Bidang Hankam
1. Menjaga Kedaulatan dan Keutuhan NKRI
2. Mengikis Tindak Kejahatan, Meningkatkan Keamanan dan Ketertiban
3. Modernisasi Alat Utama Sistem Persenjataan (alutsista) TNI Polri.
4. Peningkatan Anggaran Pertahanan dan Kemanan
Bidang Pendidikan
1. Meningkatkan Kualitas Pemerataan Pendidikan melalui Sistem Evaluasi yang Proporsional
2. Meningkatkan Penyediaan Pendidikan yang Terjangkau melalui Anggaran yang Memadai
3. Mempertegas Pendidikan Kejuruan melalui Diversifikasi Keahlian
Bidang Sosial dan Kesehatan
1. Meningkatkan Solidaritas Sosial, Kesetiakawanan, dan Memupuk Semangat Nasionalisme
2. Pemberdayaan bagi Kalangan Fakir Miskin dan Anak Terlantar
3. Meningkatkan Penyediaan Sarana dan Prasarana Kesehatan, Dokter dan Tenaga Medis yang Memadai bagi Daerah Tertinggal atau Kurang Berkembang
4. Memperluas Jangkauan Asuransi Kesehatan menuju Terwujudnya Sistem Jaminan Sosial Nasional
Setelah itu materi masuk kedalam tata cara penandaan pada kertas suara sesuai dengan peraturan KPU No. 29 Tahun 2009.
Lesson Learned/ Recomendation
1. Perlunya pendidikan politik yang terus menerus dilakukan kepada masyarakat sehingga bisa mengubah pola pikir tentang pemahaman demokratisasi.
2. Penyadaran dan pendidikan yang berkesinambungan tentang pentingnya menganalisis partai politik dan calon legislatif dalam menentukan masa depan daerah.
3. Mendorong KPU untuk meningkatkan sosialisasi pendidikan pemilih khususnya untuk daerah-daerah pedalaman sehingga masyarakat lebih memahami mengenai makna dan pentingnya pemilihan umum untuk perubahan daerahnya.
Foto-foto kegiatan ve di peresak
Jalan yang lumayan bagus menuju peresak jalan yang baru pengerasan di peresak
Jalan perkampungan diperesak jalan tanah yang belum dilakukanpengerasan
Sebagian besar rumag penduduk seperti ini jembatannya masih menggunakan papan
Ibu-ibu yang membawa anaknya peserta Veyang semangat mengikuti kegiatan
Trainer lagi membagikan bolpoin buat peserta training peserta lagi melakukan simulasi pencontrengan
Peserta yang lagimendengarkanmateri VE Peserta lagi melakukan simulasi pencontrengan
laporan VE Pebruantoni dan teman di karimunting
Laporan Kegiatan
Pendidikan Pemilih (Voter Education)
Di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang
Oleh:
Pebruantoni
Dedy Armayadi
M. Isnaini
Koalisi Masyarakat Pemilu Untuk Demokratis
(KMPD)
2009
I. INFORMASI UMUM
1.1 Pelaksana
Pelaksana Kegiatan Pendidikan Pemilih (Voter Education) di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang adalah Tim Trainer dari LPS AIR yang tergabung ke dalam Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Demokratis (KMPD). Tim ini terdiri dari tiga orang yakni:
a. Pebruantoni (Koordinator Tim Trainer).
b. Dedy Armayadi (Ass. Tim Trainer)
c. M. Isnaini (Ass. Tim Trainer)
1.2 Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan atau pendidikan bagi pemilih.
1.3 Waktu dan tempat
Kegiatan pendidikan pemilih ini dilaksanakan pada
Hari/ Tanggal : Minggu, 15 Maret 2009
Pukul : 14.30-17.00 WIB
Tempat : Rumah Kediaman Ibu Wakini, Jl. Raya Karimunting, No. 17, RT III/RW XIII, Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya, Kab. Bengkayang.
1.4 Rencana dan pelaksanaan kegiatan
Rencana kegiatan pendidikan pemilih di Desa Karimunting direncanakan pada hari Jum’at, 13 Maret 2009. Namun kegiatan pendidikan pemilih baru dapat dilaksanakan pada hari Minggu, 15 Maret 2009.
1.5 Penundaan
Tertundanya kegiatan pendidikan pemilih di Desa Karimunting ini disebabkan adanya perubahan jadwal pengajian Badan Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Sungai Raya Kepulauan. Kegiatan pendidikan pemilih ini mengikuti waktu pengajian majelis taklim. Semula pengajian majelis taklim dijadwalkan pada hari Jum’at, 13 Maret 2009. Namun pada waktu bersamaan warga Desa Karimunting mengadakan acara Maulid Nabi, sehingga pengajian majelis tak’lim diundur hingga Minggu, 15 Maret 2009.
1.6 Nara sumber
Narasumber kegiatan pendidikan pemilih ini berasal dari Tim Trainer KMPD;
a. Dedy Armayadi untuk Materi “Demokrasi & Pemilu”, dan “Menjadi Pemilih Cerdas”.
b. Pebruantoni untuk Materi “Hari Pemilu”
1.7 Peserta :
Peserta pendidikan pemilih ini berjumlah 40 orang, yang terdiri dari 8 orang laki-laki dan 32 orang perempuan. Target peserta di Desa Karimunting adalah pemilih perempuan (Nama peserta terlampir).
II. PELAKSANAAN
2.1 Latar belakang kegiatan
Pesta Demokrasi bagi rakyat Indonesia melalui penyelenggaraan PEMILU 2009 tinggal menghitung hari. Suasana Pesta Demokrasi sudah terasa dimana-mana, setiap sudut desa dan kota terpampang Baliho, Spanduk, Poster, Stiker, dan alat peraga lainnya dari para calon Wakil Rakyat periode 2009-2014.
Namun demikian, ada sisi yang kurang diperhatikan oleh para kontestan PEMILU 2009, yakni terkait dengan partisipasi rakyat yang lebih cerdas untuk terlibat secara aktif dalam setiap tahapan PEMILU 2009, sehingga hasil dari PEMILU 2009 akan semakin berkualitas. Hal ini digambarkan dengan terpilihnya wakil rakyat, baik mereka yang akan duduk di lembaga legislatif (DPR, DPRD, DPD) maupun presiden dan wakil presiden yang dapat menjawab harapan rakyat berupa kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Dari pengalaman PEMILU sebelumnya, rendahnya partisipasi rakyat Kalimantan Barat dalam PEMILU disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Informasi PEMILU yang tidak dapat menjangkau secara luas ke seluruh lapisan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis Kalimantan Barat yang luas namun memiliki keterbatasan infrastruktur, serta penyebaran penduduk yang terpencar sampai di wilayah pesisir pedalaman; (2) Rendahnya pemahaman tentang arti pentingnya PEMILU. Hal ini disebabkan oleh belum dipahaminya pemilu sebagai sarana demokrasi yang ampuh untuk menentukan pemimpin yang sesuai dengan kepentingannya; dan (3) Rendahnya kemampuan dalam memahami proses PEMILU. Ketiga faktor tersebut disebabkan oleh suatu kenyataan masih rendahnya tingkat pendidikan rakyat serta sosialisasi penyelenggaraan PEMILU yang masih belum dilakukan secara maksimal.
Berdasarkan hal tersebut, Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Demokratis (KMPD) Kalimantan Barat mencoba mengambil sisi yang masih kurang diperhatikan, dengan salah satu kegiatannya melakukan Pendidikan Pemilih pada PEMILU 2009. Pendidikan Pemilih ini diberikan kepada tiga sasaran yaitu (1) Pemilih Pemula, (2) Pemilih Perempuan, dan (3) Pemilih Marginal. Adapun salah satu penyelenggaraan pendidikan pemilih dengan target pemilih perempuan dilaksanakan di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.
2.2 Tujuan kegiatan
a. Menambah wawasan peserta tentang Demokrasi dan PEMILU 2009, sehingga aktif mengikuti setiap tahapan PEMILU 2009.
b. Meningkatkan pemahaman peserta untuk menjadi pemilih yang cerdas.
c. Menambah pengetahuan peserta tentang surat suara sah dan tidak sah, sehingga paham dalam mencontreng surat suara yang benar saat PEMILU 2009.
2.3 Hasil yang Diharapkan
a. Peserta dapat memahami Demokrasi dan PEMILU 2009, sehingga aktif mengikuti setiap tahapan PEMILU 2009.
b. Peserta menjadi pemilih yang cerdas.
c. Peserta paham cara mencontreng surat suara dengan benar saat PEMILU 2009.
2.4 Metode
Pendidikan pemilih ini menggunakan beberapa metode yakni;
a. Ceramah dan tanya jawab
b. Simulasi
2.5 Pencapaian hasil
a. Peserta Paham tentang Demokrasi dan Pemilu 2009
Dalam pendidikan pemilih ini peserta diberikan materi tentang demokrasi dan pemilu. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalan ceramah dan tanya jawab. Sessi ini berjalan dengan lancar. Antusias peserta mendengarkan penjelasan fasilitator cukup baik.
Fasilitator dapat membuat suasana pertemuan jadi lebih interaktif. Ia sering bertanya langsung kepada peserta, tentang berbagai permasalahan terkait demokrasi dan pemilu, baik tentang arti demokrasi, pengalaman berdemokrasi di rumah tangga dan di majelis taklim, pemilu, maupun tentang harapan peserta kepada pemerintahan terpilih 2009-2014. Fasilitator juga mengarahkan diskusi dan tanya jawab kepada tema-tema yang dekat dengan kaum ibu-ibu. Misalnya, bagaimana cara pengambilan keputusan di dalam rumah tangga, bagaimana sulitnya ibu-ibu mengatur keuangan keluarga, bagaimana hasil tani yang mereka kerjakan, bagaimana harga sembako, bagaimana kondisi pendidikan anak-anak, dan lainnya. Dari pertanyaan-pertanyaan itu peserta menyadari ternyata banyak persoalan di sekitar mereka yang mesti ditangani. Peserta memahami perlunya akan perubahan.
Peserta mendengarkan materi demokrasi dan pemilu dari fasilitator.
Selepas sessi tanya jawab pada materi demokrasi dan pemilu, selanjutnya peserta diarahkan untuk mengungkapkan berbagai harapan kepada pemerintahan terpilih 2009-2014. Harapan ini kelak dapat disampaikan kepada calon legislatif yang berkampanye di Desa Karimunting. Agar janji mereka bisa ditagih, hendaknya masyarakat membuat kontrak politik kepada setiap calon legislatif yang datang.
b. Peserta paham tentang bagaimana menjadi pemilih cerdas.
Peserta terlibat aktif saat sessi materi “menjadi pemilih cerdas”
Dalam sessi ini peserta diajak untuk berdiskusi tentang bagaimana menjadi pemilih cerdas. Suasana penyampaian materi ini dibuat interaktif. Fasilitator sering bertanya kepada peserta dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana, seperti apakah ibu-ibu mau memilih calon yang suka ingkar janji? Kalau calonnya ganteng, apakah ibu-ibu mau memilih calon tersebut? Bagaimana kalau ada calon yang mengadakan kampanye dengan memberi sembako? Menurut ibu-ibu calon dan partai seperti apa yang layak dipilih?
Jawaban peserta beragam. Soal calon yang ingkar janji, seluruh ibu-ibu menjawab tidak mau memilih calon yang ingkar janji. Tentang calon ganteng, ada ibu-ibu yang bilang mau memilih, tapi ada juga yang bilang calon ganteng belum menjamin. Mengenai sembako, ibu-ibu bilang, kalau ada yang memberi ya diambil saja, tapi tidak mesti memilih calon tersebut. Sedangkan calon dan partai yang layak dipilih menurut peserta adalah calon dan partai yang mampu mewujudkan harapan masyarakat, jujur, adil, dan berpihak kepada masyarakat.
c. Peserta mengerti cara mencontreng/mencentang yang benar.
Materi Hari Pemilu disampaikan oleh Pebruantoni. Metode yang digunakan dalam materi ini adalah ceramah dan tanya jawab. Dalam sessi ini fasilitator menyampaikan tentang tahapan pelaksanaan pemilu dan bagaimana mencentang dengan benar agar surat suara dinyatakan sah. Fasilitator juga menyampaikan tentang surat suara yang tidak sah. Dasar pemateri memberikan materi ini yaitu PERPPU No. 1 Tahun 2009, PER_KPU No.03 Tahun 2009, dan PER_KPU No. 13 Tahun 2009.
Dalam sessi ini peserta ditunjukkan beberapa contoh surat suara. Ada empat surat suara yang akan dicentang pada waktu pemilu nanti, yakni surat suara DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD. Fasilitator menjelaskan tentang bagaimana cara mencentang surat suara sah, surat suara yang dianggap sah, dan surat suara tidak sah.
Simulasi pencontrengan surat suara oleh peserta
Sebelumnya fasilitator telah menyediakan contoh surat suara pada selembar kertas. Kertas tersebut menjadi media simulasi cara mencentang.
Menurut fasilitator ada beberapa bentuk pencentangan/ pencon-trengan, yaitu; (√), (x), dan (-). Pencentangan dinyatakan sah jika dilakukan dalam kolom partai dan atau kolom nama partai politik. Surat suara dinyatakan sah jika pemilih hanya mencoret nama calon, dengan catatan tidak boleh melewati garis kolom. Pencentangan tidak diperbolehkan bila dilakukan di luar kolom tersebut, dan tidak boleh mencentang lebih dari 1 calon legislatif.
Peserta bertanya kepada fasilitator tentang centang tidak sempurna
d. Hasil Evaluasi Kegiatan
Sebagai bahan pembelajaran dan untuk mengetahui penilaian peserta terhadap penyelenggaraan pelatihan, tim trainer meminta kepada 10 peserta untuk mengisi lembar evaluasi kegiatan. Pengisian lembar evaluasi ini dilakukan secara mandiri oleh peserta pelatihan.
Peserta mengisi lembar evaluasi kegiatan
Berikut hasil evaluasi kegiatan dari peserta:
No Description Score
Jelek
(Orang) Tidak Bagus
(Orang) Biasa
(Orang) Bagus
(Orang) Sangat Bagus
(Orang)
1 Kemampuan fasilitator dalam menjelaskan materi training 5 5
2 Kemampuan fasilitator dalam menumbuhkan partisipasi dan semangat peserta 4 4 2
3 Kemampuan dalam menjawab berbagai pertanyaan dari peserta 2 7 1
4 Ketepatan methodologi pelatihan 1 9
5 Dukungan alat-alat (Handout, LCD, perlengkapan, dsb) 10
6 Fasilitas akomodasi 6 3 1
7 Kualitas penyelenggaraan training secara keseluruhan 2 8
Pertanyaan mengenai “pengetahuan” secara umum dapat dijawab oleh peserta. Namun ada tiga jawaban yang perlu diperhatikan, yakni tentang mengapa kita harus memilih pada pemilu 2009 nanti, sessi yang disukai peserta, dan saran perbaikan dari peserta.
Berikut jawaban tentang mengapa kita harus memilih dalam pemilu 2009.
Karena sudah memiliki hak pilih
Memilih adalah hak warga negara
Untuk memenuhi hak sebagai pemilih
Berikut jawaban tentang sessi yang dianggap peserta paling menarik:
Sessi pencontohan cara-cara pemilihan caleg (menjadi pemilih cerdas).
Penjelasan secara mendetail dan bisa menambah pengalaman.
Cara penyampaiannya jelas, hingga mudah dimengerti.
Cara penyampaian cukup jelas dan terbuka.
Cara penyampaiannya jelas dan teratur.
Penjelasan tentang cara memilih.
Adapun saran dari peserta guna perbaikan pelatihan yaitu;
Lebih diperjelas lagi dengan baik dan mantap.
Waktu penjelasan kurang.
Penjelasan materinya dibuat lebih detail dan dimantapkan.
Supaya sosialisasinya lebih menjurus ke masyarakat yang lebih awam.
Sosialisasinya kepada masyarakat lebih awal agar masyarakat siap untuk mendengarkan training ini.
2.6 Tantangan
Tantangan dalam pelatihan ini diantaranya sebagai berikut:
1. Ruangan yang digunakan dalam pendidikan pemilih ini tidak luas, sementara peserta yang ikut 40 orang. Karena itu, fasilitator agak sulit menggunakan metode lain selain ceramah dan tanya jawab.
2. Waktu pertemuan juga terbatas, karena pelatihan ini mengambil waktu pengajian ibu-ibu BKMT.
3. Di hari Minggu ini, dalam satu hari tim trainer mesti mengadakan 3 kali pelatihan, di tempat yang berjauhan. Pagi di Desa Sungai Bakau Besar Laut, Siang di Desa Karimunting, dan Malam di Desa Sungai Pangkalan I. Ini dilakukan karena mengikuti agenda dan kesediaan masyarakat setempat. Agar tidak mengganggu waktu kerja, di beberapa lokasi pelatihan, masyarakat setempat meminta tim trainer mengadakan kegiatan pada saat hari libur, seperti di hari Minggu.
Setelah mengadakan kegiatan di Desa Sungai Bakau Besar Laut, Kec. Sungai Pinyuh, tim trainer harus menempuh perjalanan sejauh ± 65 km, untuk mengadakan kegiatan pendidikan pemilih di Desa Karimunting bersama ibu-ibu pengajian. Ini jadi salah satu tantangan yang menyenangkan sekaligus melelahkan mengingat baru kali ini dalam satu hari kita mengadakan 3 kali pertemuan, dengan jarak lokasi yang cukup jauh. Memang. Saja luar biasa!
2.7 Pelajaran yang diambil/rekomendasi
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari pelatihan ini yaitu:
1. Untuk pertemuan yang diikuti dengan jumlah peserta sekitar 40 orang hendaknya dilaksanakan di ruangan yang cukup luas atau di tempat yang lebih refresentatif, sehingga metode yang digunakan dalam pelatihan ini bisa lebih variatif.
2. Waktu pengajian majelis taklim dapat digunakan sebagai sarana untuk menyelenggarakan pendidikan pemilih. Hal ini dikarenakan sebagian besar perempuan di Desa Karimunting menjadi anggota majelis taklim. Hanya saja pendidikan pemilih pada saat pengajian waktunya terbatas.
3. Agar tidak terlalu terburu-buru, penyelenggaraan pendidikan pemilih di lokasi yang berjauhan hendaknya dipisahkan harinya.
4. Berdasarkan evaluasi kegiatan, umumnya peserta menyukai cara penyampaian fasilitator yang cukup jelas, terbuka, teratur dan mudah dimengerti. Meskipun metode yang digunakan ceramah dan tanya jawab, saat penyampaian materi, fasilitator sering bertanya, dan membuat suasana pertemuan jadi lebih interaktif. Penyampaian materi juga diperjelas dengan contoh-contoh yang dekat dengan permasalahan kaum perempuan. Metode seperti ini hendaknya dapat dipertahankan.
Pendidikan Pemilih (Voter Education)
Di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang
Oleh:
Pebruantoni
Dedy Armayadi
M. Isnaini
Koalisi Masyarakat Pemilu Untuk Demokratis
(KMPD)
2009
I. INFORMASI UMUM
1.1 Pelaksana
Pelaksana Kegiatan Pendidikan Pemilih (Voter Education) di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang adalah Tim Trainer dari LPS AIR yang tergabung ke dalam Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Demokratis (KMPD). Tim ini terdiri dari tiga orang yakni:
a. Pebruantoni (Koordinator Tim Trainer).
b. Dedy Armayadi (Ass. Tim Trainer)
c. M. Isnaini (Ass. Tim Trainer)
1.2 Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan atau pendidikan bagi pemilih.
1.3 Waktu dan tempat
Kegiatan pendidikan pemilih ini dilaksanakan pada
Hari/ Tanggal : Minggu, 15 Maret 2009
Pukul : 14.30-17.00 WIB
Tempat : Rumah Kediaman Ibu Wakini, Jl. Raya Karimunting, No. 17, RT III/RW XIII, Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya, Kab. Bengkayang.
1.4 Rencana dan pelaksanaan kegiatan
Rencana kegiatan pendidikan pemilih di Desa Karimunting direncanakan pada hari Jum’at, 13 Maret 2009. Namun kegiatan pendidikan pemilih baru dapat dilaksanakan pada hari Minggu, 15 Maret 2009.
1.5 Penundaan
Tertundanya kegiatan pendidikan pemilih di Desa Karimunting ini disebabkan adanya perubahan jadwal pengajian Badan Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Sungai Raya Kepulauan. Kegiatan pendidikan pemilih ini mengikuti waktu pengajian majelis taklim. Semula pengajian majelis taklim dijadwalkan pada hari Jum’at, 13 Maret 2009. Namun pada waktu bersamaan warga Desa Karimunting mengadakan acara Maulid Nabi, sehingga pengajian majelis tak’lim diundur hingga Minggu, 15 Maret 2009.
1.6 Nara sumber
Narasumber kegiatan pendidikan pemilih ini berasal dari Tim Trainer KMPD;
a. Dedy Armayadi untuk Materi “Demokrasi & Pemilu”, dan “Menjadi Pemilih Cerdas”.
b. Pebruantoni untuk Materi “Hari Pemilu”
1.7 Peserta :
Peserta pendidikan pemilih ini berjumlah 40 orang, yang terdiri dari 8 orang laki-laki dan 32 orang perempuan. Target peserta di Desa Karimunting adalah pemilih perempuan (Nama peserta terlampir).
II. PELAKSANAAN
2.1 Latar belakang kegiatan
Pesta Demokrasi bagi rakyat Indonesia melalui penyelenggaraan PEMILU 2009 tinggal menghitung hari. Suasana Pesta Demokrasi sudah terasa dimana-mana, setiap sudut desa dan kota terpampang Baliho, Spanduk, Poster, Stiker, dan alat peraga lainnya dari para calon Wakil Rakyat periode 2009-2014.
Namun demikian, ada sisi yang kurang diperhatikan oleh para kontestan PEMILU 2009, yakni terkait dengan partisipasi rakyat yang lebih cerdas untuk terlibat secara aktif dalam setiap tahapan PEMILU 2009, sehingga hasil dari PEMILU 2009 akan semakin berkualitas. Hal ini digambarkan dengan terpilihnya wakil rakyat, baik mereka yang akan duduk di lembaga legislatif (DPR, DPRD, DPD) maupun presiden dan wakil presiden yang dapat menjawab harapan rakyat berupa kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Dari pengalaman PEMILU sebelumnya, rendahnya partisipasi rakyat Kalimantan Barat dalam PEMILU disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Informasi PEMILU yang tidak dapat menjangkau secara luas ke seluruh lapisan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografis Kalimantan Barat yang luas namun memiliki keterbatasan infrastruktur, serta penyebaran penduduk yang terpencar sampai di wilayah pesisir pedalaman; (2) Rendahnya pemahaman tentang arti pentingnya PEMILU. Hal ini disebabkan oleh belum dipahaminya pemilu sebagai sarana demokrasi yang ampuh untuk menentukan pemimpin yang sesuai dengan kepentingannya; dan (3) Rendahnya kemampuan dalam memahami proses PEMILU. Ketiga faktor tersebut disebabkan oleh suatu kenyataan masih rendahnya tingkat pendidikan rakyat serta sosialisasi penyelenggaraan PEMILU yang masih belum dilakukan secara maksimal.
Berdasarkan hal tersebut, Koalisi Masyarakat untuk Pemilu Demokratis (KMPD) Kalimantan Barat mencoba mengambil sisi yang masih kurang diperhatikan, dengan salah satu kegiatannya melakukan Pendidikan Pemilih pada PEMILU 2009. Pendidikan Pemilih ini diberikan kepada tiga sasaran yaitu (1) Pemilih Pemula, (2) Pemilih Perempuan, dan (3) Pemilih Marginal. Adapun salah satu penyelenggaraan pendidikan pemilih dengan target pemilih perempuan dilaksanakan di Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang.
2.2 Tujuan kegiatan
a. Menambah wawasan peserta tentang Demokrasi dan PEMILU 2009, sehingga aktif mengikuti setiap tahapan PEMILU 2009.
b. Meningkatkan pemahaman peserta untuk menjadi pemilih yang cerdas.
c. Menambah pengetahuan peserta tentang surat suara sah dan tidak sah, sehingga paham dalam mencontreng surat suara yang benar saat PEMILU 2009.
2.3 Hasil yang Diharapkan
a. Peserta dapat memahami Demokrasi dan PEMILU 2009, sehingga aktif mengikuti setiap tahapan PEMILU 2009.
b. Peserta menjadi pemilih yang cerdas.
c. Peserta paham cara mencontreng surat suara dengan benar saat PEMILU 2009.
2.4 Metode
Pendidikan pemilih ini menggunakan beberapa metode yakni;
a. Ceramah dan tanya jawab
b. Simulasi
2.5 Pencapaian hasil
a. Peserta Paham tentang Demokrasi dan Pemilu 2009
Dalam pendidikan pemilih ini peserta diberikan materi tentang demokrasi dan pemilu. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalan ceramah dan tanya jawab. Sessi ini berjalan dengan lancar. Antusias peserta mendengarkan penjelasan fasilitator cukup baik.
Fasilitator dapat membuat suasana pertemuan jadi lebih interaktif. Ia sering bertanya langsung kepada peserta, tentang berbagai permasalahan terkait demokrasi dan pemilu, baik tentang arti demokrasi, pengalaman berdemokrasi di rumah tangga dan di majelis taklim, pemilu, maupun tentang harapan peserta kepada pemerintahan terpilih 2009-2014. Fasilitator juga mengarahkan diskusi dan tanya jawab kepada tema-tema yang dekat dengan kaum ibu-ibu. Misalnya, bagaimana cara pengambilan keputusan di dalam rumah tangga, bagaimana sulitnya ibu-ibu mengatur keuangan keluarga, bagaimana hasil tani yang mereka kerjakan, bagaimana harga sembako, bagaimana kondisi pendidikan anak-anak, dan lainnya. Dari pertanyaan-pertanyaan itu peserta menyadari ternyata banyak persoalan di sekitar mereka yang mesti ditangani. Peserta memahami perlunya akan perubahan.
Peserta mendengarkan materi demokrasi dan pemilu dari fasilitator.
Selepas sessi tanya jawab pada materi demokrasi dan pemilu, selanjutnya peserta diarahkan untuk mengungkapkan berbagai harapan kepada pemerintahan terpilih 2009-2014. Harapan ini kelak dapat disampaikan kepada calon legislatif yang berkampanye di Desa Karimunting. Agar janji mereka bisa ditagih, hendaknya masyarakat membuat kontrak politik kepada setiap calon legislatif yang datang.
b. Peserta paham tentang bagaimana menjadi pemilih cerdas.
Peserta terlibat aktif saat sessi materi “menjadi pemilih cerdas”
Dalam sessi ini peserta diajak untuk berdiskusi tentang bagaimana menjadi pemilih cerdas. Suasana penyampaian materi ini dibuat interaktif. Fasilitator sering bertanya kepada peserta dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana, seperti apakah ibu-ibu mau memilih calon yang suka ingkar janji? Kalau calonnya ganteng, apakah ibu-ibu mau memilih calon tersebut? Bagaimana kalau ada calon yang mengadakan kampanye dengan memberi sembako? Menurut ibu-ibu calon dan partai seperti apa yang layak dipilih?
Jawaban peserta beragam. Soal calon yang ingkar janji, seluruh ibu-ibu menjawab tidak mau memilih calon yang ingkar janji. Tentang calon ganteng, ada ibu-ibu yang bilang mau memilih, tapi ada juga yang bilang calon ganteng belum menjamin. Mengenai sembako, ibu-ibu bilang, kalau ada yang memberi ya diambil saja, tapi tidak mesti memilih calon tersebut. Sedangkan calon dan partai yang layak dipilih menurut peserta adalah calon dan partai yang mampu mewujudkan harapan masyarakat, jujur, adil, dan berpihak kepada masyarakat.
c. Peserta mengerti cara mencontreng/mencentang yang benar.
Materi Hari Pemilu disampaikan oleh Pebruantoni. Metode yang digunakan dalam materi ini adalah ceramah dan tanya jawab. Dalam sessi ini fasilitator menyampaikan tentang tahapan pelaksanaan pemilu dan bagaimana mencentang dengan benar agar surat suara dinyatakan sah. Fasilitator juga menyampaikan tentang surat suara yang tidak sah. Dasar pemateri memberikan materi ini yaitu PERPPU No. 1 Tahun 2009, PER_KPU No.03 Tahun 2009, dan PER_KPU No. 13 Tahun 2009.
Dalam sessi ini peserta ditunjukkan beberapa contoh surat suara. Ada empat surat suara yang akan dicentang pada waktu pemilu nanti, yakni surat suara DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD. Fasilitator menjelaskan tentang bagaimana cara mencentang surat suara sah, surat suara yang dianggap sah, dan surat suara tidak sah.
Simulasi pencontrengan surat suara oleh peserta
Sebelumnya fasilitator telah menyediakan contoh surat suara pada selembar kertas. Kertas tersebut menjadi media simulasi cara mencentang.
Menurut fasilitator ada beberapa bentuk pencentangan/ pencon-trengan, yaitu; (√), (x), dan (-). Pencentangan dinyatakan sah jika dilakukan dalam kolom partai dan atau kolom nama partai politik. Surat suara dinyatakan sah jika pemilih hanya mencoret nama calon, dengan catatan tidak boleh melewati garis kolom. Pencentangan tidak diperbolehkan bila dilakukan di luar kolom tersebut, dan tidak boleh mencentang lebih dari 1 calon legislatif.
Peserta bertanya kepada fasilitator tentang centang tidak sempurna
d. Hasil Evaluasi Kegiatan
Sebagai bahan pembelajaran dan untuk mengetahui penilaian peserta terhadap penyelenggaraan pelatihan, tim trainer meminta kepada 10 peserta untuk mengisi lembar evaluasi kegiatan. Pengisian lembar evaluasi ini dilakukan secara mandiri oleh peserta pelatihan.
Peserta mengisi lembar evaluasi kegiatan
Berikut hasil evaluasi kegiatan dari peserta:
No Description Score
Jelek
(Orang) Tidak Bagus
(Orang) Biasa
(Orang) Bagus
(Orang) Sangat Bagus
(Orang)
1 Kemampuan fasilitator dalam menjelaskan materi training 5 5
2 Kemampuan fasilitator dalam menumbuhkan partisipasi dan semangat peserta 4 4 2
3 Kemampuan dalam menjawab berbagai pertanyaan dari peserta 2 7 1
4 Ketepatan methodologi pelatihan 1 9
5 Dukungan alat-alat (Handout, LCD, perlengkapan, dsb) 10
6 Fasilitas akomodasi 6 3 1
7 Kualitas penyelenggaraan training secara keseluruhan 2 8
Pertanyaan mengenai “pengetahuan” secara umum dapat dijawab oleh peserta. Namun ada tiga jawaban yang perlu diperhatikan, yakni tentang mengapa kita harus memilih pada pemilu 2009 nanti, sessi yang disukai peserta, dan saran perbaikan dari peserta.
Berikut jawaban tentang mengapa kita harus memilih dalam pemilu 2009.
Karena sudah memiliki hak pilih
Memilih adalah hak warga negara
Untuk memenuhi hak sebagai pemilih
Berikut jawaban tentang sessi yang dianggap peserta paling menarik:
Sessi pencontohan cara-cara pemilihan caleg (menjadi pemilih cerdas).
Penjelasan secara mendetail dan bisa menambah pengalaman.
Cara penyampaiannya jelas, hingga mudah dimengerti.
Cara penyampaian cukup jelas dan terbuka.
Cara penyampaiannya jelas dan teratur.
Penjelasan tentang cara memilih.
Adapun saran dari peserta guna perbaikan pelatihan yaitu;
Lebih diperjelas lagi dengan baik dan mantap.
Waktu penjelasan kurang.
Penjelasan materinya dibuat lebih detail dan dimantapkan.
Supaya sosialisasinya lebih menjurus ke masyarakat yang lebih awam.
Sosialisasinya kepada masyarakat lebih awal agar masyarakat siap untuk mendengarkan training ini.
2.6 Tantangan
Tantangan dalam pelatihan ini diantaranya sebagai berikut:
1. Ruangan yang digunakan dalam pendidikan pemilih ini tidak luas, sementara peserta yang ikut 40 orang. Karena itu, fasilitator agak sulit menggunakan metode lain selain ceramah dan tanya jawab.
2. Waktu pertemuan juga terbatas, karena pelatihan ini mengambil waktu pengajian ibu-ibu BKMT.
3. Di hari Minggu ini, dalam satu hari tim trainer mesti mengadakan 3 kali pelatihan, di tempat yang berjauhan. Pagi di Desa Sungai Bakau Besar Laut, Siang di Desa Karimunting, dan Malam di Desa Sungai Pangkalan I. Ini dilakukan karena mengikuti agenda dan kesediaan masyarakat setempat. Agar tidak mengganggu waktu kerja, di beberapa lokasi pelatihan, masyarakat setempat meminta tim trainer mengadakan kegiatan pada saat hari libur, seperti di hari Minggu.
Setelah mengadakan kegiatan di Desa Sungai Bakau Besar Laut, Kec. Sungai Pinyuh, tim trainer harus menempuh perjalanan sejauh ± 65 km, untuk mengadakan kegiatan pendidikan pemilih di Desa Karimunting bersama ibu-ibu pengajian. Ini jadi salah satu tantangan yang menyenangkan sekaligus melelahkan mengingat baru kali ini dalam satu hari kita mengadakan 3 kali pertemuan, dengan jarak lokasi yang cukup jauh. Memang. Saja luar biasa!
2.7 Pelajaran yang diambil/rekomendasi
Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari pelatihan ini yaitu:
1. Untuk pertemuan yang diikuti dengan jumlah peserta sekitar 40 orang hendaknya dilaksanakan di ruangan yang cukup luas atau di tempat yang lebih refresentatif, sehingga metode yang digunakan dalam pelatihan ini bisa lebih variatif.
2. Waktu pengajian majelis taklim dapat digunakan sebagai sarana untuk menyelenggarakan pendidikan pemilih. Hal ini dikarenakan sebagian besar perempuan di Desa Karimunting menjadi anggota majelis taklim. Hanya saja pendidikan pemilih pada saat pengajian waktunya terbatas.
3. Agar tidak terlalu terburu-buru, penyelenggaraan pendidikan pemilih di lokasi yang berjauhan hendaknya dipisahkan harinya.
4. Berdasarkan evaluasi kegiatan, umumnya peserta menyukai cara penyampaian fasilitator yang cukup jelas, terbuka, teratur dan mudah dimengerti. Meskipun metode yang digunakan ceramah dan tanya jawab, saat penyampaian materi, fasilitator sering bertanya, dan membuat suasana pertemuan jadi lebih interaktif. Penyampaian materi juga diperjelas dengan contoh-contoh yang dekat dengan permasalahan kaum perempuan. Metode seperti ini hendaknya dapat dipertahankan.
Senin, 19 Januari 2009
illegall loging merupakan kejahatan yang teroganisi
kita lihat dan amati mampir setiap hari ada saja kasus illegal loging ada pemberitaanyan di media masa, apalagi disaat masa-masa kampanye sekarang ini, akankah ada hubungannya antara para pelaku illegal loging dengan pemilu? sejauh mana hubungannya? siapakah para pelakunya? apakah motifnya? dan banyak lagi pertannyaan-pertannyaan yang harus di jawab, namun di sini saya tidak mau memberikan jawaban yang gamblang, saya hannya ingin kita berpikir dan sama-sama mencarikan solusi buat bangsa dan negara tercinta kita ini. saatnya kita untuk tidak hannya menyalahkan orang lain saja tampa kita intropeksi diri, sejauh mana kita berperan dalam menekan dan atau memerangi tindakan illegal loging tersebut, ataukah kita hannya diam membisu seribu bahasa tampa memberikan kontribusi yang dapat mermamfaat bagi bangsa dan negara.
yang dibutuhkan sekarang ini adalah bagaimana kita bersikap dan apa yang telah kita berikan kepada bangsa dan negara ini. semoga kita menyadari akan berapa bahayannya dari dampak illegal loging tersut bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. mari kita bersatu tuk memerangi illegal loging dan menyelamatkan masa depan bumi kita demi terciptanya kehidupan yang aman dan selaras dengan alam.
yang dibutuhkan sekarang ini adalah bagaimana kita bersikap dan apa yang telah kita berikan kepada bangsa dan negara ini. semoga kita menyadari akan berapa bahayannya dari dampak illegal loging tersut bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. mari kita bersatu tuk memerangi illegal loging dan menyelamatkan masa depan bumi kita demi terciptanya kehidupan yang aman dan selaras dengan alam.
Selasa, 13 Januari 2009
perdamaian itu indah
palestina dan israel sampai kapanpun tidak akan akur karena ada perbedaan prinsip yang mendasar dari kedua buah negara tersebut. seharusnya palestina dan israel di jadikan sebuah nega internasional yang mana negara palestina dan israel menyatu, karena sesuangguhnya israel dan palestina sama aneh dengan kata lain palestina mempunyai negara tapi tidak mempunyai bangsa, sedangkan israel mempunyai bangsa tapi tidak mempunyai negara. saatnya kita berpikir untuk menjadikan perdamaian di muka bumi ini. karena sesungguhnya perdamaian itu indah.
indonesia negara yang super aneh
indonesia yang terkenal dengan keaneka ragaman hayati di dunia merupakan negara termiskin didunia, apa yang salah dengan negara ini? mengapa negara ini menjadi miskin? dimana orang-orang pintar indonesia? kemana hasil bumi dan kekayaan alamnya selama ini? dan banyak lagi pertanyaan yang ter lontar disana?
namun kita ketahui bahwa ada beberapa faktor yeng mengakibatkan negara indonesia ini miskin, rakyatnya tidak terusrus, kekayaan alamnya hilang menguap begitu saja adalah sebagai berikut :
1. karena kerakusan oramg-orang tertentu di negeri ini.
2. pemerintahan yang kurang memikirkan rakyatnya.
3. pembodohan yang dilakukan oleh elit-elit politik dan pemerintah terhadap rakyatnya sampai sekarang.
4.tidak terbukanya informasi terhadap apa saja yang telah diolakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya selama ini.
5. negara masih menerapkan prinsif negara kapitasil.
namun kita ketahui bahwa ada beberapa faktor yeng mengakibatkan negara indonesia ini miskin, rakyatnya tidak terusrus, kekayaan alamnya hilang menguap begitu saja adalah sebagai berikut :
1. karena kerakusan oramg-orang tertentu di negeri ini.
2. pemerintahan yang kurang memikirkan rakyatnya.
3. pembodohan yang dilakukan oleh elit-elit politik dan pemerintah terhadap rakyatnya sampai sekarang.
4.tidak terbukanya informasi terhadap apa saja yang telah diolakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya selama ini.
5. negara masih menerapkan prinsif negara kapitasil.
pemberantasan ilegalloging di indonesia
indonesia merupakan negara yang luas dan kaya akan sumber alam baik hayati maupun non hayati, namun sayang kekayaan alam tersebut kurang di mamfaatkan sebaik mungkin sehingga kekayaan itu justru melahirkan kemiskinan, apa yang salah dari semua itu?, apakah kita yang tidak tau menggunakannya atau kita yang tidak mau memikirkan betapa beruntungnya kita dibanding dengan bangsa lain di dunia ini. hal ini sangatlah memprihatinkan dimana hutan gundul tampa dapat mensejahtrakan masyarakatnya, penebangan liar yang lebih tren lagi di sebut sebagai praktek illegal loging yang sampai saat ini masih begitu maraknya, seakan hukum di negara indonesia tercinta ini sudah tidak ada lagi.
Pemerintah dengan mengeluarkan regulasi begitu banyanya juga tidak memberikan aspek jera bagi pelaku ilegal loging, begitu banyaknya regulasi itu diantaranya di keluarkannya undang-undang no 41 tahun 1999 tentang kehutanan sampai dengan di keluarkanya inpres no 4 tahun 2005 tentang percepatan pemberantasan ilegal loging. yang mana di delam inpres tersebut mewajibkan 18 instansi terkait untuk saling bersinerji dalam pelaksanaan pemberantasan ilegal loging.
namun kenyataannya hal itu sangat disayangkan, karena apa yang di cita-citakan oleh inpren tersebut tidak terujut, dengan kata lain adanya inpres dengan tidak adanya inpres sama saja. hal ini di tandai dengan masih maraknya kegiatan ilegal loging di tandai dengan masih banyaknya penengkapan yang dilakukan oleh kepolisian, TNI, pol hut.
sampai kapan pelaku ilegal loging merajalela melakukan kegiatannya di negara tercinta ini. apakah sampai sumberdaya hutan kita habis tampa sisa, atau ada upaya kita untuk melakukan perlawanan terhadap pelaku kejahatan illegal loging tersebut, karena sampai saat ini kita dirugikan dengan kegiatan illegal loging tersebut, karena illegal loging mengkibatkan banjir, erosi, abrasi, musim pancaroba, elmino, elmini, dan pemanasan gelobal serta rusaknya sumberdaya alam yang ada.
semoga kita terbagun kesadarannya untuk bersama-sama memerangi kejahatan ilegal loging.
Pemerintah dengan mengeluarkan regulasi begitu banyanya juga tidak memberikan aspek jera bagi pelaku ilegal loging, begitu banyaknya regulasi itu diantaranya di keluarkannya undang-undang no 41 tahun 1999 tentang kehutanan sampai dengan di keluarkanya inpres no 4 tahun 2005 tentang percepatan pemberantasan ilegal loging. yang mana di delam inpres tersebut mewajibkan 18 instansi terkait untuk saling bersinerji dalam pelaksanaan pemberantasan ilegal loging.
namun kenyataannya hal itu sangat disayangkan, karena apa yang di cita-citakan oleh inpren tersebut tidak terujut, dengan kata lain adanya inpres dengan tidak adanya inpres sama saja. hal ini di tandai dengan masih maraknya kegiatan ilegal loging di tandai dengan masih banyaknya penengkapan yang dilakukan oleh kepolisian, TNI, pol hut.
sampai kapan pelaku ilegal loging merajalela melakukan kegiatannya di negara tercinta ini. apakah sampai sumberdaya hutan kita habis tampa sisa, atau ada upaya kita untuk melakukan perlawanan terhadap pelaku kejahatan illegal loging tersebut, karena sampai saat ini kita dirugikan dengan kegiatan illegal loging tersebut, karena illegal loging mengkibatkan banjir, erosi, abrasi, musim pancaroba, elmino, elmini, dan pemanasan gelobal serta rusaknya sumberdaya alam yang ada.
semoga kita terbagun kesadarannya untuk bersama-sama memerangi kejahatan ilegal loging.
Langganan:
Postingan (Atom)